Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 April 2026 | Kenzo Nambu, eks pemain PSM Makassar yang kini memperkuat Persipal Palu, menjalani musim yang penuh tantangan di Pegadaian Championship 2025/2026. Selama kampanye ini, ia hanya menembus delapan laga tanpa mencetak gol maupun memberikan assist, statistik yang jauh di bawah ekspektasi mengingat reputasinya sebagai striker produktif.
Meski angka tersebut tidak menguntungkan, Nambu menegaskan tekadnya untuk tetap berkarier di tanah air setidaknya tiga tahun ke depan. “Tentu saja, impian saya adalah terus bermain di Indonesia selama tiga tahun lagi. Itu mengapa saya harus menunjukkan sesuatu di lapangan,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Bola.com.
Situasi Persipal Palu sendiri tidak lebih baik. Klub asal Sulawesi Tengah berada di zona degradasi dan pada akhirnya terpuruk ke divisi lebih rendah. Nambu mengakui bahwa kondisi tim sangat sulit, namun ia menolak menjadi “pembuat alasan”. “Sangat sulit memperbaiki situasi setelah bergabung, tetapi saya tidak ingin mengeluh,” jelasnya.
Hingga kini, belum ada tawaran resmi dari klub lain di Indonesia. Nambu telah berkelana di empat klub Tanah Air: Borneo FC Samarinda, Bali United, PSM Makassar, dan kini Persipal Palu. Pengalaman lintas klub memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika Liga 1 maupun kompetisi tingkat kedua.
Sementara Nambu berjuang mencari peluang, kehadiran pemain asal Jepang lainnya terus menambah warna kompetisi domestik. Pada fase awal Liga 1 2023/2024, ada empat pemain Jepang yang menonjol:
- Ryo Matsumura (Persija Jakarta) – mencetak dua gol dalam lima laga pertama dan menjadi faktor penentu kemenangan melawan Persebaya Surabaya.
- Taisei Marukawa (PSIS Semarang) – meski belum membuka gol, ia menyumbangkan dua assist dalam lima penampilan.
- Kenzo Nambu (PSM Makassar) – pada musim 2023/2024, ia berhasil mencetak tiga gol dari lima pertandingan, membantu PSM mempertahankan gelar juara.
- Mitsuru Maruoka (RANS Nusantara FC) – mencatat tiga gol dan satu assist dalam lima laga, menjadi andalan serangan RANS.
Kehadiran mereka tidak hanya meningkatkan kualitas teknis, tetapi juga menarik minat sponsor serta menambah eksposur internasional bagi Liga Indonesia. Pelatih asing seperti Tomas Trucha, yang pernah melatih PSM Makassar, menilai pemain Jepang sebagai sosok profesional yang dapat mengangkat standar latihan dan taktik tim.
Analisis para pengamat menyebutkan bahwa peningkatan jumlah pemain Jepang di Liga 1 didorong oleh beberapa faktor: adaptasi budaya yang relatif mudah, kualitas akademi sepak bola Jepang yang terstruktur, serta peluang kontrak yang kompetitif. Klub-klub besar seperti Persija, PSIS, dan RANS kini lebih aktif dalam merekrut talenta Asia Timur untuk memperkuat lini serang dan tengah.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan untuk tempat di skuad utama cukup ketat, dan pemain asing harus menyesuaikan diri dengan iklim, jadwal padat, serta ekspektasi suporter yang tinggi. Bagi Nambu, usia 33 tahun menambah beban fisik, namun ia tetap mengandalkan pengalaman serta kecerdasan bermain untuk tetap relevan.
Ke depan, prospek Liga Indonesia tampak cerah dengan semakin banyak pemain Jepang yang tertarik. Jika Nambu berhasil mendapatkan tawaran baru, baik dari klub Liga 1 atau tim yang kembali naik, ia dapat menjadi contoh inspiratif bagi pemain senior lainnya yang ingin memperpanjang karier di Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, kisah Kenzo Nambu menyoroti semangat juang seorang pemain yang tidak menyerah pada statistik buruk dan kondisi klub yang menantang. Sementara itu, kontribusi rekan-rekannya menunjukkan bahwa pemain Jepang kini menjadi aset berharga bagi perkembangan kompetisi domestik Indonesia.









