Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 05 Mei 2026 | Manchester United kembali menunjukkan keunggulan dalam duel melawan Liverpool pada Minggu sore yang lalu, dan salah satu sorotan utama datang dari penampilan Florian Wirtz. Pemain berusia 23 tahun ini, yang baru merayakan ulang tahunnya, gagal menampilkan pengaruh yang diharapkan, menimbulkan pertanyaan tajam mengenai perannya di skuad Jürgen Klopp.
Ian Doyle menilai bahwa Liverpool kehilangan inisiatif sejak menit awal pertandingan. Menurut Doyle, dominasi awal United memaksa Liverpool menyerah pada tekanan, dan meski Szoboszlai berhasil mencetak gol di babak kedua, upaya itu tidak cukup untuk mengubah arah permainan. Dalam analisisnya, Doyle menyoroti bahwa Wirtz, yang diposisikan bersama Dominik Szoboszlai sebagai double number 10, seharusnya menjadi mesin penggerak di lini tengah. Sayangnya, ia lebih sering berkeliling di pinggiran lapangan tanpa menciptakan peluang nyata.
Daniel Sturridge, mantan bintang Liverpool, menambahkan perspektifnya lewat wawancara di Sky Sports. Sturridge berpendapat bahwa masalah utama bukan hanya pada Wirtz, melainkan pada keseimbangan lini tengah Liverpool secara keseluruhan. “Defensive midfield area sudah lama hilang sejak era Fabinho,” ujar Sturridge. “Ketika Fabinho berada dalam performa terbaiknya, pemain di depannya memiliki kebebasan untuk menekan, berlari, dan mencipta. Sekarang, tanpa perlindungan itu, Wirtz terpaksa mencari ruang yang tidak ada, baik ketika ia turun lebih dalam maupun ketika ia tetap di posisi tinggi.
Sturridge menyarankan agar Klopp menyiapkan satu atau dua gelandang bertahan yang disiplin, sehingga Wirtz dapat beroperasi sebagai number 10 sejati. Ia menegaskan, “Jika Wirtz bermain di posisi 10, dua gelandang di belakangnya harus dapat menahan serangan lawan, memberi ruang bagi Wirtz untuk menyalurkan bola ke area berbahaya.” Pendekatan ini, menurut Sturridge, akan mengurangi beban Wirtz untuk menyelesaikan semua tugas kreatif secara mandiri.
Sementara itu, Curtis Jones juga berada dalam sorotan. Jones mencatatkan penampilan ke-150nya di Liga Premier, namun posisi yang diberikan – right-back – menambah beban taktis bagi Liverpool. Kritik terhadap Jones mencerminkan kekhawatiran lebih luas tentang bagaimana pemain muda dapat berkontribusi bila taktik tim tidak memberikan dukungan yang memadai.
Berbagai faktor lain turut memengaruhi performa Wirtz pada laga tersebut. Alexander Isak dan Mohamed Salah menjadi pilihan utama di lini serang, sementara Hugo Ekitike berada di ruang perawatan. Kombinasi pemain baru ini menuntut Wirtz untuk menyesuaikan diri dengan pola serangan yang belum terbentuk sepenuhnya. Selain itu, penggunaan Wirtz sebagai false nine pada sebagian waktu pertandingan menambah kebingungan taktis, karena ia tidak memiliki rekan penyerang yang konsisten untuk berkolaborasi.
Berikut rangkuman poin kritis yang diangkat oleh para pengamat:
- Kurangnya gelandang bertahan yang solid membuat Wirtz terpaksa mencari ruang sendiri.
- Posisi yang berubah-ubah (double 10, false nine) menghambat konsistensi peran.
- Lack of service from forward line, terutama setelah Isak dan Salah belum sepenuhnya selaras.
- Tekanan awal United menuntut Liverpool untuk menyesuaikan taktik secara cepat, yang belum berhasil.
Melihat ke depan, Klopp diperkirakan akan meninjau kembali formasi lini tengah. Mengintegrasikan pemain seperti Fabinho kembali atau menyiapkan gelandang bertahan muda yang dapat menutup ruang akan menjadi prioritas. Dengan menstabilkan area defensif, Wirtz diharapkan dapat beralih ke peran kreatif yang lebih bebas, mengoptimalkan kemampuannya dalam mengatur tempo permainan dan menciptakan peluang gol.
Kesimpulannya, penampilan Florian Wirtz melawan Manchester United menegaskan perlunya penyesuaian taktis di Liverpool. Kritik dari mantan pemain dan analis menyoroti ketidakseimbangan lini tengah sebagai akar permasalahan. Jika Klopp mampu memperbaiki struktur gelandang, Wirtz memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama Liverpool di kompetisi domestik dan Eropa.











