Kesehatan

Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Kronologi dan Dampak

×

Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Kronologi dan Dampak

Share this article
Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Kronologi dan Dampak
Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Kronologi dan Dampak

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Mei 2026 | Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius telah menarik perhatian dunia setelah beberapa penumpang dilaporkan meninggal dan sejumlah lainnya terinfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut wabah ini kemungkinan melibatkan penularan antarmanusia dari jenis Andes hantavirus, strain langka yang diketahui dapat menyebar melalui kontak dekat.

Kapal MV Hondius membawa 147 orang, terdiri dari 87 penumpang dan 60 kru dari 24 negara, termasuk 17 warga Amerika Serikat. Kapal tersebut dilaporkan telah berlabuh di perairan dekat Tenerife, Kepulauan Canary pada Minggu, 10 Mei 2026.

📖 Baca juga:
Ramalan Pisces Besok, Minggu 3 Mei 2026: Percaya Diri dan Wujudkan Perubahan Besar

Penumpang pertama yang meninggal adalah pria Belanda berusia 70 tahun. WHO menyebut pria tersebut mulai mengalami gejala pada 6 April 2026 berupa demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare saat berada di kapal. Kondisinya kemudian memburuk hingga mengalami gangguan pernapasan pada 11 April sebelum akhirnya meninggal di hari yang sama di atas kapal.

Istrinya yang berusia 69 tahun kemudian juga jatuh sakit. Pada 24 April, perempuan tersebut turun di Pulau Saint Helena karena mengalami gangguan lambung. Ia lalu diterbangkan ke Johannesburg, Afrika Selatan, tetapi kondisinya memburuk di dalam perjalanan. Perempuan itu sempat pingsan ketika hendak melanjutkan penerbangan menuju Belanda dan meninggal di rumah sakit terdekat pada 26 April.

Korban ketiga adalah perempuan asal Jerman yang mulai mengalami demam dan rasa tidak enak badan pada 28 April. Kondisinya berkembang menjadi pneumonia dan ia meninggal di kapal pada 2 Mei. Hasil pemeriksaan laboratorium di Belanda memastikan korban terinfeksi Andes hantavirus.

📖 Baca juga:
Misteri Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: Apa Penyebab, Gejala, dan Ancaman Kematian?

Evakuasi penumpang kapal MV Hondius dilakukan dengan sangat hati-hati dan prosedur kesehatan ketat, termasuk penggunaan perlindungan khusus untuk mencegah potensi penularan. Sebanyak 14 warga negara Spanyol menjadi kelompok pertama yang dievakuasi. Setelah itu, giliran penumpang dari Belanda, termasuk warga Belanda, Yunani, dan Jerman, serta sebagian kru kapal.

Penerbangan lanjutan juga disiapkan untuk penumpang asal Inggris dan Amerika Serikat, sementara penerbangan terakhir dijadwalkan menuju Australia pada Senin. Kapal MS Hondius sebelumnya tiba di Pelabuhan Granadilla sebelum fajar pada Minggu, 10 Mei 2026, sekitar satu bulan setelah kasus kematian pertama dilaporkan di atas kapal.

Meski demikian, perlukah cemas berlebihan karena potensi penyebaran virus ini? Menurut Pakar Infeksi Penyakit Tropik, penyebaran virus yang berasal dari hewan pengerat termasuk tikus ini tidak perlu dicemaskan berlebihan. Kementerian Kesehatan sendiri sudah mencatat keberadaan Hantavirus di Indonesia sejak tahun 2015.

📖 Baca juga:
Calon Haji Solo Dikirim Pulang: 21 Jemaah Dikembalikan Setelah Pemeriksaan Medis

Virus Hanta adalah sesuatu yang kita sudah kenal cukup lama. Bukan virus baru, bukan virus baru. Biasanya dibawa oleh hewan pengerat, rodents. Yang paling sering itu tikus. Kita enggak setakut itulah dengan Hanta ini, tetapi memang jangan sampai lengah.

Kemenkes mencatat, semua kasus terkonfirmasi terjangkit hantavirus di Indonesia merupakan varian Seoul. Varian ini berbeda dengan varian Andes, yang menjangkiti sejumlah orang di MV Hondius hingga meninggal dunia.

Kesimpulan, wabah hantavirus di kapal MV Hondius telah menarik perhatian dunia dan menyebabkan beberapa kematian. Penyebaran virus ini kemungkinan melibatkan penularan antarmanusia dari jenis Andes hantavirus. Meskipun demikian, penyebaran virus ini tidak perlu dicemaskan berlebihan karena sudah dikenal sejak lama dan dapat dicegah dengan prosedur kesehatan yang ketat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *