Ekonomi

The Fed Tahan Suku Bunga, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia?

×

The Fed Tahan Suku Bunga, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia?

Share this article
The Fed Tahan Suku Bunga, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia?
The Fed Tahan Suku Bunga, Apa Dampaknya pada Ekonomi Indonesia?

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 31 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda terkoreksi 38 poin atau sekitar 0,21 persen ke posisi Rp18.111 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal maupun domestik yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan.

Dari sisi global, sentimen dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (29/7/2026) mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran setelah serangan rudal Iran sehari sebelumnya yang menyasar pangkalan militer AS di Yordania.

📖 Baca juga:
Rupiah Melemah, Mengungkap Fondasi Ekonomi Indonesia

Di saat bersamaan, kelompok Houthi yang didukung Iran juga menerapkan blokade laut terhadap Arab Saudi di kawasan Laut Merah sejak 20 Juli. Kebijakan itu mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, meski sejumlah pengiriman, terutama menggunakan kapal tanker yang terkait dengan China, masih tetap berlangsung.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Namun, keputusan tersebut diambil melalui hasil pemungutan suara yang tidak bulat, yakni 9 berbanding 3.

Tiga anggota Federal Open Market Committee (FOMC), yakni Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, memilih agar suku bunga dinaikkan sebesar 25 basis poin.

📖 Baca juga:
Nilai Tukar Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 94,97 poin atau 1,56 persen ke posisi 6.186,36. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 12,34 poin atau 2,03 persen ke posisi 618,86.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang 67 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September 2026, atau meningkat dari 56 persen sehari sebelumnya. Sementara itu, ekspektasi terhadap kenaikan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin kini hampir sepenuhnya menghilang.

Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis setelah dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan inflasi menunjukkan penurunan sesuai perkiraan. Pelaku pasar juga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh belum memberikan kejelasan mengenai prospek inflasi dan kebijakan moneter AS.

📖 Baca juga:
Rupiah Melemah, Masyarakat Diminta Mengelola Keuangan dengan Bijak

Mengutip CNBC, Jumat (31/7/2026), Harga emas di pasar spot naik 1,1% menjadi US$ 4.109,94 per ounce. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,9% menjadi US$ 4.108,30 per ounce.

Dalam kesimpulan, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah dan IHSG. Pelaku pasar harus tetap waspada terhadap perubahan kebijakan moneter AS dan dampaknya pada ekonomi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *