Ekonomi

Suku Bunga Acuan Naik, Rupiah Menguat dan Modal Asing Mulai Masuk

×

Suku Bunga Acuan Naik, Rupiah Menguat dan Modal Asing Mulai Masuk

Share this article
Suku Bunga Acuan Naik, Rupiah Menguat dan Modal Asing Mulai Masuk
Suku Bunga Acuan Naik, Rupiah Menguat dan Modal Asing Mulai Masuk

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 13 Juni 2026 | Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen, sehingga membuat respons pasar kembali positif. Nilai tukar rupiah juga telah kembali menguat di bawah 18.000 per dolar AS.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, bauran kebijakan BI, termasuk kenaikan BI-Rate menjadi 5,5 persen, penguatan struktur suku bunga SRBI, dan pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, berhasil membuat rupiah terus menguat.

📖 Baca juga:
BRI Perkuat Ekosistem Digital dan Literasi Keuangan Masyarakat

Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Destry juga membeberkan pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif yang didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.

Sementara itu, dolar AS juga melemah pada Jumat, 12 Juni 2026, dan menuju penurunan mingguan, karena meningkatnya harapan akan kesepakatan perdamaian antara Washington dan Teheran meningkatkan sentimen risiko dan meredam permintaan aset aman.

Nilai tukar rupiah bergerak menguat 129 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.860 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat sore. Rupiah menguat dibanding sebelumnya di Rp17.989 per dolar AS.

📖 Baca juga:
Dollar Menguat, Shekel Israel Capai Tingkat Tertinggi dalam 30 Tahun

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal. Faktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik.

Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga perlu dukungan kebijakan suku bunga agar fundamental tetap kuat. Yusuf menjelaskan, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen, meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga investor memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, kenaikan suku bunga acuan yang diikuti penguatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) berhasil menarik kembali minat investor global. Respons positif pelaku pasar tercermin dari meningkatnya aliran modal asing yang masuk ke instrumen SRBI setelah lelang SRBI pada 10 Juni 2026.

📖 Baca juga:
Prabowo Subianto: Membangun Ekonomi Kerakyatan dan Menghadapi Tantangan Global

Selain itu, investor asing juga mulai kembali melakukan pembelian di pasar obligasi pemerintah. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah. Masuknya kembali dana asing tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Kesimpulan, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dan penguatan imbal hasil SRBI dan SBN telah membuat rupiah kembali menguat dan menarik minat investor asing. Dengan demikian, BI akan terus menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mempertahankan aliran masuk modal asing dan mendukung stabilitas pasar keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *