Ekonomi

Bitcoin Meroket Melewati $78.000 Saat Iran Buka Selat Hormuz: Dampak Geopolitik pada Aset Safe Haven

×

Bitcoin Meroket Melewati $78.000 Saat Iran Buka Selat Hormuz: Dampak Geopolitik pada Aset Safe Haven

Share this article
Bitcoin Meroket Melewati $78.000 Saat Iran Buka Selat Hormuz: Dampak Geopolitik pada Aset Safe Haven
Bitcoin Meroket Melewati $78.000 Saat Iran Buka Selat Hormuz: Dampak Geopolitik pada Aset Safe Haven

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 18 April 2026 | Pasar kripto mengalami lonjakan signifikan pada pekan ini ketika harga Bitcoin (BTC) menembus level $78.000, dipicu oleh keputusan Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal pengangkut minyak. Keputusan tersebut muncul setelah gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat antara Israel dan Hezbollah, yang mengakhiri ketegangan militer di wilayah tersebut.

Saat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memuncak pada akhir Februari, pasar global mengalami gejolak tajam. Dalam hitungan jam, kapitalisasi pasar kripto kehilangan lebih dari $128 miliar, dengan Bitcoin turun dari sekitar $66.000 ke $63.000. Namun, seiring berakhirnya penutupan Selat Hormuz, aliran perdagangan beralih ke komoditas energi, khususnya minyak, yang mencatat kenaikan volume perdagangan sebesar 1.042% dibandingkan rata‑rata sebelum konflik. Sementara itu, partisipasi perdagangan Bitcoin menurun 9% di bawah level pra‑konflik, menandakan bahwa investor ritel lebih memilih aset tradisional seperti emas atau komoditas minyak selama periode ketidakpastian.

📖 Baca juga:
Detik-detik Kapal Perusak AS Tembak & Sita Kapal Kargo Iran di Teluk Oman: Konflik Memanas

Emas tetap memegang peranan sebagai aset safe haven tradisional. Harga emas mencatat kenaikan stabil selama fase ketegangan, menegaskan posisinya sebagai pilihan utama bagi investor yang menghindari volatilitas. Di sisi lain, Bitcoin menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Setelah penurunan awal, Bitcoin berhasil bangkit hampir 20% dari titik terendahnya, bahkan mengungguli indeks ekuitas selama periode konflik secara keseluruhan. Analis pasar menilai bahwa peningkatan partisipasi institusional membuat Bitcoin lebih sensitif terhadap pergerakan “risk‑off” yang biasanya memengaruhi saham, namun juga memberikan peluang pemulihan yang cepat ketika sentimen risiko membaik.

Data terbaru dari platform perdagangan menunjukkan bahwa para whale—pemegang Bitcoin dalam jumlah besar—menjual lebih dari 36.000 BTC dalam rentang waktu kurang dari satu minggu. Penjualan besar ini berkontribusi pada tekanan jual tambahan, meskipun tidak menghentikan tren kenaikan harga secara keseluruhan. Sementara itu, para penambang Bitcoin juga menurunkan eksposur mereka secara signifikan, menjual rekor 32.000 BTC pada kuartal pertama 2026. Langkah ini dipicu oleh tekanan harga hashrate yang meningkat, memaksa penambang mengoptimalkan portofolio mereka dengan likuiditas yang lebih tinggi.

Analisis dari Capital.com menyoroti bahwa meskipun Bitcoin tidak menjadi pilihan utama bagi investor ritel selama fase paling intensif konflik, aset digital ini tetap memperoleh dukungan dari segmen institusional dan beberapa negara yang mencari alternatif sistem pembayaran. Iran dilaporkan meminta pembayaran dalam Bitcoin selama penutupan Selat Hormuz, menandakan potensi penggunaan kripto sebagai sistem pembayaran lintas‑batas dalam situasi sanksi ekonomi.

📖 Baca juga:
Blokade Ganda di Selat Hormuz Guncang Pasokan Energi Dunia, Apa Dampaknya?

Perbandingan antara Bitcoin dan emas selama krisis menunjukkan bahwa kedua aset memiliki kelebihan masing‑masing. Emas mempertahankan peran klasiknya sebagai pelindung nilai, sementara Bitcoin menawarkan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi dan diversifikasi portofolio, terutama bagi investor yang mengantisipasi perubahan geopolitik dan kebijakan moneter. Namun, volatilitas Bitcoin tetap lebih tinggi, dan faktor‑faktor eksternal seperti kebijakan regulasi, tekanan hashrate, serta aksi penjualan oleh whale dapat memicu fluktuasi tajam.

Pasar saham global juga mencatat rekor tertinggi pada periode yang sama, menandakan adanya pemisahan antara sentimen risiko ekuitas dan aset digital. Meskipun saham mencapai puncak baru, Bitcoin tetap berada pada level yang kuat, mengindikasikan bahwa aset kripto kini mulai dipandang sebagai bagian integral dari strategi alokasi aset modern, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik.

Secara keseluruhan, dinamika pasar selama konflik US‑Iran menegaskan bahwa Bitcoin telah memasuki fase kematangan dimana ia berinteraksi secara kompleks dengan aset safe haven tradisional. Kenaikan harga di atas $78.000 menandai titik balik penting, sekaligus menyoroti peran strategis kripto dalam ekosistem keuangan global yang semakin terintegrasi dengan faktor‑faktor geopolitik.

📖 Baca juga:
Krisis Energi dan Pangan Global Memuncak: Uni Eropa Siapkan Strategi, FAO Peringatkan Inflasi Akibat Selat Hormuz

Ke depan, para analis memperkirakan bahwa harga Bitcoin akan tetap dipengaruhi oleh kebijakan geopolitik, keputusan regulasi, serta aksi penjual besar seperti whale dan penambang. Investor disarankan untuk memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz, kebijakan energi global, serta tren partisipasi institusional untuk menilai arah pergerakan pasar kripto dalam beberapa bulan mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *