Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 24 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau anjlok 8,35% sepanjang pekan ini, dengan penutupan di level 6.162,04. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi dan aksi jual investor asing.
Saham-saham big caps seperti TPIA, DSSA, dan BREN menjadi penyebab utama pelemahan IHSG. Saham TPIA anjlok 53,49% sepekan dan membebani IHSG sebesar 47,55 poin. Sementara itu, saham DSSA terkoreksi 47,34% sepekan dan berkontribusi menahan laju IHSG sebesar 43,21 poin.
Saham BREN juga ambles 23,44% sepekan dan membebani IHSG sebesar 27,67 poin. Selain itu, saham BRPT juga menjadi pemberat indeks komposit dengan pelemahan 22,84% sepekan dan berkontribusi 26,72 poin dalam pelemahan IHSG.
Investor asing masih melanjutkan tren jual bersih di pasar saham domestik. Pada perdagangan Jumat, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp309,52 miliar. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) 2026, investor asing telah membukukan jual bersih sebesar Rp41,63 triliun.
Pelemahan IHSG ini terjadi di tengah tekanan struktural berskala besar yang datang secara simultan dalam kurun waktu tiga pekan saja. Faktor pertama dipicu oleh aksi perombakan portofolio global alias rebalancing indeks MSCI. Pada 12 Mei 2026, MSCI secara resmi mendepak enam saham big cap asal Indonesia dari daftar MSCI Global Standard Index.
Keenam emiten tersebut adalah DSSA, BREN, AMMN, AMRT, CUAN, dan TPIA. Kebijakan ini otomatis memaksa ribuan manajer investasi dunia yang mengelola dana pasif dan Exchange-Traded Fund (ETF) global untuk segera melakukan aksi jual massal sebelum tanggal efektif 29 Mei.
Langkah keluar ini memicu gelombang penjualan bersih (net sell) investor asing yang masif, di mana akumulasinya sejak awal tahun telah menembus Rp50,63 triliun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transaksi bernilai besar masih mendominasi perdagangan di tengah tekanan pasar. Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian justru meningkat 15,68% menjadi Rp21,77 triliun dibandingkan dengan pekan sebelumnya sebesar Rp18,82 triliun.
Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar menyusut sekitar Rp1.190 triliun hanya dalam sepekan perdagangan. Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Kautsar P. Nurahmad mengatakan bahwa rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami penurunan 6,5% menjadi 2,37 juta kali transaksi dari 2,53 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual yang masif dari investor asing telah mempengaruhi kondisi pasar saham domestik. Oleh karena itu, investor perlu waspada dan melakukan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan investasi.
Kesimpulan, pelemahan IHSG ini terjadi di tengah tekanan struktural berskala besar yang datang secara simultan dalam kurun waktu tiga pekan saja. Faktor utama yang mempengaruhi pelemahan IHSG adalah aksi perombakan portofolio global alias rebalancing indeks MSCI dan tekanan jual dari investor asing.











