Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 10 Agustus 2026 | Bulan, satelit alami Bumi, terus bergerak menjauh dari Bumi seiring berjalannya waktu. Fenomena astronomi ini terjadi secara perlahan dengan jarak rata-rata sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun. Pergerakan tersebut berkaitan dengan interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan serta fenomena pasang surut air laut.
Energi dari rotasi Bumi secara perlahan berpindah ke orbit Bulan sehingga membuat satelit alami tersebut bergerak semakin jauh. Dampak lain dari proses ini berkaitan dengan kecepatan rotasi Bumi yang perlahan mengalami perubahan. Dalam jangka waktu yang sangat panjang, kondisi tersebut dapat membuat durasi satu hari di Bumi menjadi semakin panjang.
Perubahan jarak Bulan juga dapat memengaruhi fenomena gerhana Matahari di masa depan. Ketika Bulan semakin jauh, ukuran tampaknya di langit akan semakin kecil sehingga kemampuan Bulan menutupi Matahari saat gerhana total perlahan berkurang. Para ilmuwan memperkirakan perubahan tersebut berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang dan tidak akan memberikan dampak besar terhadap kehidupan manusia saat ini.
Namun, dalam ratusan juta tahun, perubahan posisi Bulan dapat membuat gerhana Matahari total menjadi semakin jarang. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Bumi dan Bulan terus mengalami perubahan meskipun berlangsung sangat lambat. Jarak Bulan dari Bumi tidak bersifat tetap karena sistem keduanya terus berinteraksi melalui gaya gravitasi.
Sekitar 600 juta tahun lagi, kondisi Bulan diperkirakan sudah berubah cukup jauh sehingga Bumi tidak lagi mengalami gerhana Matahari total seperti yang dapat diamati saat ini. Perubahan tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana sistem tata surya terus berevolusi dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Bagi manusia saat ini, Bulan yang menjauh dari Bumi tidak perlu menjadi alasan untuk khawatir. Fenomena tersebut berlangsung sangat perlahan dan justru menjadi pengingat bahwa planet, satelit, serta benda langit lainnya terus bergerak dan berubah mengikuti hukum fisika.
Di sisi lain, BMKG juga meminta masyarakat mewaspadai potensi rob atau air pasang maksimum di enam pesisir Bali pada 11-17 Agustus. Penyebabnya karena ada fenomena fase bulan perigee, yaitu jarak terdekat Bulan dengan Bumi pada 10 Agustus dan Bulan baru pada 13 Agustus yang berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum di beberapa wilayah pesisir di Pulau Dewata.
Enam wilayah pesisir itu yakni pesisir selatan Kabupaten Jembrana, pesisir selatan Kabupaten Tabanan, pesisir Kabupaten Badung, pesisir Kota Denpasar, pesisir Kabupaten Gianyar, dan pesisir selatan Kabupaten Klungkung. Potensi pasang maksimum itu berbeda waktu baik hari dan jam di setiap wilayah tersebut.
Adapun dampak rob, berpotensi mempengaruhi aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas permukiman pesisir, dan aktivitas tambak garam dan perikanan darat. Pihaknya mengimbau masyarakat dapat memantau informasi cuaca terkini dari BMKG, baik melalui media sosial @infobmkg, @bmkgbali, dan aplikasi Info BMKG serta melalui laman bbmkg3.bmkg.go.id atau maritim.bmkg.go.id.
Belum lama ini, roket SpaceX Falcon 9 juga diperkirakan akan menghantam permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026. Tumbukan tersebut diprediksi menciptakan kawah baru dan memuntahkan material hingga ratusan kilometer dari lokasi benturan. Para peneliti memperkirakan tabrakan itu menghasilkan energi kinetik sekitar 11,8 gigajoule, atau setara dengan ledakan 2,8 ton TNT.
Dalam beberapa waktu ke depan, beberapa fenomena langit juga diperkirakan terjadi, seperti konjungsi Bulan-Mars pada 9 Agustus dan Bulan-Venus pada 16 Agustus, yang dapat diamati dari Indonesia saat cuaca cerah. Gerhana matahari total terjadi pada 12 Agustus 2026, namun berlangsung malam hingga dini hari di Indonesia sehingga tidak terlihat langsung.
Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada 13 Agustus 2026, dengan kemungkinan menghasilkan hingga 100 meteor per jam. Agar peluang mengamati hujan meteor lebih besar, pilih lokasi yang minim cahaya buatan dan pastikan langit dalam kondisi cerah.
Kesimpulan, jarak Bulan yang terus bergerak menjauh dari Bumi merupakan fenomena yang menarik dan perlu dipantau. Perubahan jarak Bulan dapat memengaruhi fenomena gerhana Matahari di masa depan dan berdampak pada kehidupan manusia. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti perkembangan terkini tentang fenomena langit.











