Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 10 Agustus 2026 | Pemerintah saat ini gencar melakukan pengawasan terhadap harga beras dan penggilingan padi di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajarannya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha, terutama di perusahaan-perusahaan BUMN seperti Pertamina dan PLN.
Langkah ini diambil untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi biaya operasional. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk memangkas anak-cucu perusahaan dan unit-unit usaha di bawahnya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Di sisi lain, harga beras di Indonesia telah mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa rata-rata harga beras pada Juli 2026 naik di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Kenaikan terjadi baik secara bulanan maupun tahunan.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga mengungkapkan adanya dugaan keuntungan tidak wajar sekitar Rp 2 triliun per bulan yang mengalir ke satu grup perusahaan penggilingan padi skala besar. Menurutnya, keuntungan fantastis tersebut diperoleh dari dugaan praktik penipuan mutu beras.
Bulog Sumut telah mengungkapkan bahwa ada potensi harga beras naik lantaran berakhirnya musim panen akhir bulan ini. Pihaknya kini gencar memasok beras SPHP ke pasar dan retail modern untuk menekan potensi harga beras yang naik.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan kenaikan margin fee menjadi 7 persen bentuk dukungan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah untuk memperkuat peran Bulog dalam menjaga cadangan beras pemerintah demi swasembada pangan berkelanjutan.
Untuk mengatasi masalah harga beras, pemerintah perlu meningkatkan produksi beras dan mengurangi ketergantungan pada impor. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan terhadap penggilingan padi dan harga beras untuk mencegah praktik penipuan mutu beras.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan produksi beras dan mengurangi ketergantungan pada impor. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan.









