Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 13 April 2026 | Angkatan Udara Nigeria melancarkan serangan udara pada Sabtu malam di sebuah pasar tradisional yang terletak di desa Jilli, perbatasan antara negara bagian Yobe dan Borno, wilayah timur laut negara itu. Serangan yang ditujukan pada pos militan Boko Haram tersebut berujung pada kematian sejumlah besar warga sipil, termasuk anak-anak, serta melukai puluhan orang lainnya.
Berbagai lembaga hak asasi manusia dan media lokal melaporkan angka korban yang bervariasi. Amnesty International mengonfirmasi setidaknya 100 orang tewas, sementara laporan lain menyebutkan angka dapat mencapai 200 jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Yobe mencatat 56 korban jiwa dan 14 luka-luka dalam data awal, namun data selanjutnya menunjukkan peningkatan signifikan setelah verifikasi lapangan.
Berikut rangkuman perkiraan angka korban berdasarkan sumber yang berbeda:
| Sumber | Korban Jiwa | Korban Luka |
|---|---|---|
| Amnesty International | ~100‑200 | Puluhan |
| Badang Penanggulangan Bencana Yobe | 56 | 14 |
| Laporan Media Lokal | ~200 | Belum pasti |
Direktur Amnesty International Nigeria, Isa Sanusi, menyatakan organisasi telah mengumpulkan foto-foto korban, termasuk anak-anak, yang memperkuat dugaan bahwa serangan tersebut salah sasaran. “Kami memiliki dokumentasi visual yang menunjukkan bahwa banyak korban adalah warga sipil yang tidak terlibat dalam aktivitas militan,” tegasnya.
Pemerintah Nigeria mengakui adanya kesalahan dalam penetapan target, namun menolak menyebut secara terbuka adanya korban sipil. Dalam pernyataan resmi, Angkatan Udara menegaskan bahwa operasi tersebut berhasil menghancurkan basis logistik dan menewaskan sejumlah militan yang menggunakan sepeda motor di daerah tersebut. Mereka menolak menyebutkan angka korban sipil dan menekankan bahwa “setiap aktivitas di zona konflik akan ditindak tegas”.
Unit Investigasi Kecelakaan dan Kerugian Sipil milik Angkatan Udara Nigeria telah dijanjikan akan segera melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik insiden. Sejumlah pejabat negara bagian Yobe menambahkan bahwa pasar Jilli memang sering menjadi tempat transaksi barang bagi kelompok ekstremis, namun tidak menutup kemungkinan bahwa warga sipil yang berjualan secara rutin menjadi korban tak terduga.
Insiden ini menambah panjang daftar dugaan serangan salah sasaran yang terjadi di wilayah konflik timur laut Nigeria sejak 2017. Data Associated Press mencatat setidaknya 500 warga sipil tewas dalam serangkaian serangan udara serupa selama lima tahun terakhir. Analisis para pakar keamanan menilai penyebab utama meliputi kelemahan intelijen, koordinasi yang kurang antara pasukan darat dan udara, serta tekanan politik untuk menunjukkan hasil cepat dalam perang melawan Boko Haram dan afiliasinya.
Sejak munculnya kelompok Boko Haram pada 2009, konflik di kawasan Yobe, Borno, dan Adamawa telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga mengungsi. Meskipun pemerintah Nigeria menerima bantuan militer dari Amerika Serikat dan sekutu lainnya, serangan yang menimbulkan korban sipil tinggi tetap menjadi sorotan internasional. PBB melalui memo keamanan menekankan perlunya audit independen atas operasi militer yang melibatkan penggunaan drone dan pesawat tempur, serta menuntut kepatuhan pada hukum humaniter internasional.
Di tengah tekanan domestik, warga Jilli dan sekitarnya menuntut keadilan dan bantuan medis yang memadai. Rumah Sakit Umum Geidam, Yobe, melaporkan bahwa 23 korban luka parah masih menjalani perawatan intensif. Tim darurat daerah telah menyalurkan bantuan makanan, air bersih, dan tempat penampungan sementara, namun akses logistik masih terhambat oleh kondisi jalan yang rusak dan keamanan yang belum sepenuhnya pulih.
Insiden ini sekaligus mengingatkan dunia tentang risiko tinggi konflik asimetris yang melibatkan serangan udara di wilayah padat penduduk. Tanpa mekanisme verifikasi target yang ketat, kemungkinan terjadinya kesalahan sasaran tetap tinggi, mengorbankan nyawa warga tak bersenjata. Upaya internasional untuk memperkuat standar operasional militer dan memperluas peran organisasi hak asasi manusia menjadi kunci dalam mencegah tragedi serupa di masa depan.
Dengan ribuan korban sejak awal konflik, tekanan untuk menemukan solusi politik yang berkelanjutan semakin mendesak. Sementara itu, keluarga korban di Jilli terus menunggu kepastian mengenai nasib orang terkasih, mengingat proses investigasi masih berada pada tahap awal.











