Internasional

Militer AS Batal Pensiunkan A-10: Keputusan Kontroversial Pasca Pertempuran Iran

×

Militer AS Batal Pensiunkan A-10: Keputusan Kontroversial Pasca Pertempuran Iran

Share this article
Militer AS Batal Pensiunkan A-10: Keputusan Kontroversial Pasca Pertempuran Iran
Militer AS Batal Pensiunkan A-10: Keputusan Kontroversial Pasca Pertempuran Iran

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 30 April 2026 | Washington mengumumkan keputusan penting pada akhir pekan ini: militer Amerika Serikat tidak akan menutup program pensiun pesawat tempur A-10 Thunderbolt II. Keputusan ini datang sesudah serangkaian konfrontasi militer antara Iran dan koalisi Amerika-Israel yang memuncak pada serangan rudal, drone, dan jet tempur ke pangkalan AS di Camp Buehring, Kuwait. Penggunaan pesawat A-10 dalam konflik tersebut menjadi sorotan utama karena kemampuannya dalam dukungan udara dekat (close air support) yang dianggap krusial untuk menahan ancaman darat dan menanggapi serangan tak terduga.

Konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026 antara pasukan Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya telah menelan lebih dari 170 pesawat musuh, menurut pernyataan juru bicara Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia. Iran menegaskan bahwa mereka terus memperbarui target dan memperkuat persenjataan meski gencatan senjata telah disepakati pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Sementara itu, Amerika Serikat menanggapi serangan ke pangkalan Camp Buehring dengan mengirimkan beberapa unit A-10 untuk mengamankan zona operasional dan menyiapkan respons udara yang cepat.

📖 Baca juga:
Negosiasi Langsung Israel-Lebanon: Gencatan Senjata 10 Hari yang Dipicu Tekanan AS

Serangan Iran ke Camp Buehring, yang melibatkan jet Northrop F-5 berusia lebih dari lima puluh tahun, drone, serta rudal balistik, berhasil menembus sistem pertahanan berlapis yang meliputi rudal Patriot dan jaringan radar canggih. Kerusakan diperkirakan mencapai miliaran dolar, termasuk landasan pacu, sistem radar, hangar, dan fasilitas logistik. Keberhasilan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas pertahanan udara tradisional Amerika di wilayah Timur Tengah.

Dalam konteks tersebut, A-10 kembali dipertimbangkan sebagai aset taktis yang mampu beroperasi pada ketinggian rendah, menahan serangan anti‑air, dan memberikan tembakan presisi terhadap kendaraan lapis baja serta instalasi musuh. Keunggulan A-10 terletak pada keandalan mesin turbofan GE dan senapan kanon 30 mm GAU‑8/A yang mampu menghancurkan target darat dengan cepat. Oleh karena itu, Pentagon menolak usulan pensiun yang sebelumnya dijadwalkan pada tahun 2025, mengingat kebutuhan mendesak akan platform yang mampu menyesuaikan diri dengan medan pertempuran yang tidak konvensional.

Keputusan ini mendapat dukungan dari sejumlah pejabat militer senior, termasuk Kepala Staf Gabungan Amerika, Jenderal Dan Caine, yang menyatakan, “A-10 tetap menjadi tulang punggung dukungan udara dekat kami di kawasan yang penuh tantangan. Menariknya, pesawat ini telah terbukti tahan banting dalam operasi yang melibatkan serangan udara lawan yang tidak terduga.” Di sisi lain, kritikus di Kongres mengkritik keputusan tersebut sebagai pemborosan anggaran, mengingat usia pesawat yang sudah lebih dari empat dekade.

📖 Baca juga:
Rusia Siap Tampung Uranium Iran, Usulan Putin ke AS Belum Direspon: Kunci Damai Nuklir?

Pernyataan politik dari Gedung Putih juga menambah kompleksitas situasi. Presiden Donald Trump menegaskan kembali posisi keras AS terhadap Iran, menyebut Iran berada dalam “kondisi runtuh” dan menolak proposal Tehran untuk membuka Selat Hormuz tanpa pencabutan blokade laut Amerika. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, meski lebih moderat, menyebut proposal Iran “lebih baik daripada yang kami duga”, namun menekankan bahwa isu nuklir tetap menjadi hambatan utama.

Sementara itu, Iran terus memperkuat armada udara dengan mengoperasikan pesawat-pesawat lama seperti F-4 Phantom, F-14 Tomcat, MiG-29, Su-24, dan F-7 buatan China. Meskipun teknologi mereka tertinggal dibandingkan F-35 atau F-15 milik AS, taktik serangan simultan menggunakan drone, rudal, dan jet low‑altitude terbukti efektif dalam menembus pertahanan musuh.

Analisis para pakar militer menilai bahwa keputusan mempertahankan A-10 bukan sekadar soal nostalgia, melainkan respons strategis terhadap perubahan taktik peperangan modern. Kombinasi antara kecepatan respon, daya tahan, dan kemampuan menembak dari ketinggian rendah menjadikan A-10 sebagai elemen penting dalam menjaga kestabilan operasional di wilayah yang rentan terhadap serangan mendadak.

📖 Baca juga:
Reaksi China Keras Usai Kapal Iran Diserang AS: Ancaman Balik yang Bisa Menjadi Bumerang

Secara keseluruhan, keputusan Pentagon mencerminkan adaptasi kebijakan pertahanan di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus berubah. Dengan Iran masih menegaskan kesiapan tempur meski dalam gencatan senjata, serta potensi eskalasi di Selat Hormuz, militer AS tampaknya memilih untuk mempertahankan semua aset yang dapat memberikan keunggulan taktis, termasuk A-10 yang legendaris.

Keputusan ini juga mengirim sinyal kuat kepada sekutu-sekutu NATO dan negara-negara Teluk bahwa Amerika Serikat siap menanggapi setiap agresi dengan kombinasi teknologi lama yang teruji dan inovasi modern. Pada akhirnya, masa depan A-10 kini tidak hanya bergantung pada usia pesawat, melainkan pada kemampuan adaptasinya terhadap medan pertempuran yang semakin kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *