Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 17 April 2026 | Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah Amerika Serikat menerapkan blokade militer pada 13 April 2026, menutup akses laut bagi kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran. Langkah ini menimbulkan reaksi keras Tehran, yang tidak hanya melanjutkan ekspor minyak melalui rute alternatif, tetapi juga mengumumkan persiapan jebakan laut yang dapat menenggelamkan kapal perang Amerika. Menurut pernyataan penasihat militer Iran, Mojtaba Khamenei, pasukan Iran siap menyiapkan lebih dari enam ribu ranjau laut di perairan strategis tersebut, sebuah ancaman yang dapat menimbulkan kerugian tak terhitung bagi armada AS.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa meski blokade telah diberlakukan, setidaknya 11 juta barel minyak Iran berhasil menembus Selat Hormuz dalam dua hari terakhir. Dua kapal kargo yang berada di bawah sanksi AS, Zaynar 2 dan Neshat, berhasil menyeberang menuju pelabuhan Bandar Abbas dengan menggunakan jalur antara Pulau Larak dan Qeshm. Sementara itu, platform TankerTrackers mengonfirmasi visual bahwa Iran mengirimkan sembilan juta barel minyak dari penyimpanan terapung di Teluk Oman setelah blokade dimulai, ditambah dua juta barel yang berangkat satu hari sebelumnya.
Pernyataan keras juga datang dari mantan panglima IRGC, Mohsen Rezaei, yang mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Amerika dengan rudal pertama mereka dan menambahkan bahwa setiap kapal yang menolak dapat jatuh korban ranjau laut. “Kapal‑kapal Anda ini akan dihancurkan oleh rudal‑rudal kami dan ranjau‑ranjau yang telah kami tanam di dasar selat,” ujarnya dalam sebuah siaran televisi pemerintah pada 15 April 2026.
Blokade AS menargetkan semua kapal yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz, namun mengizinkan kapal non‑Iran melintas asalkan tidak membayar pungutan kepada Tehran. Iran menolak keberlakuan pungutan tersebut dan menegaskan bahwa blokade melanggar hukum internasional serta mengancam gencatan senjata yang baru saja dirundingkan di Islamabad. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan kesiapan militer Iran untuk mengambil langkah lebih lanjut jika blokade berlanjut.
Berikut ini ringkasan data ekspor minyak Iran selama periode konflik terbaru:
| Periode | Ekspor (juta barel) | Rata‑rata harian (barel) |
|---|---|---|
| 15 Mar – 14 Apr 2026 | 55,22 | ≈1,84 juta |
| Maret 2026 | ≈55 juta | ≈1,68 juta |
| April 2026 (hingga 16 Apr) | ≈34 juta | ≈1,71 juta |
Dengan harga minyak dunia berada di kisaran US$90–100 per barel, pendapatan harian Iran dari ekspor minyak dapat mencapai US$165 juta, atau lebih dari US$5 miliar per bulan. Pendapatan ini meningkat signifikan dibandingkan dengan periode pra‑perang, ketika Iran memperoleh sekitar US$115 juta per hari.
Ancaman ranjau laut menambah dimensi baru pada konflik. Analis maritim memperkirakan bahwa penempatan hingga enam ribu ranjau berdaya ledak tinggi di zona selat dapat menimbulkan kerugian material dan nyawa yang tidak dapat dipulihkan, terutama bagi kapal perang yang biasanya bergerak dengan kecepatan tinggi dan beroperasi dalam formasi. Penggunaan ranjau ini juga dapat memperparah risiko kecelakaan sipil, mengingat Selat Hormuz melayani sekitar 20 % pasokan minyak dunia serta sejumlah besar gas alam cair.
Implikasi geopolitik dari eskalasi ini sangat luas. Blokade AS berpotensi menimbulkan kenaikan harga minyak global, memicu inflasi di negara‑negara importir, dan memperkuat posisi China sebagai pembeli utama minyak Iran—diperkirakan 97,6 % stok minyak Iran di perairan tersebut ditujukan untuk pasar Tiongkok. Sementara itu, tekanan ekonomi pada Iran dapat memaksa Tehran mencari dukungan lebih lanjut dari aliansi regional, meningkatkan risiko konfrontasi militer lebih luas di kawasan Teluk Persia.
Kesimpulannya, kombinasi blokade laut AS, upaya Iran menembus kembali jalur ekspor minyak, dan ancaman penempatan ribuan ranjau laut menciptakan situasi yang sangat berbahaya bagi stabilitas maritim internasional. Jika kedua belah pihak tidak menemukan solusi diplomatik dalam waktu dekat, Selat Hormuz berisiko menjadi zona perang terbuka yang tidak hanya mengancam kapal militer, tetapi juga mengganggu aliran energi dunia secara signifikan.











