Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 14 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Sabtu, 11 April 2026, menegaskan komitmennya untuk melancarkan operasi pembasmian ikan sapu‑sapu secara masif di seluruh wilayah ibu kota. Pernyataan tersebut disampaikan di Lapangan Banteng setelah tim lapangan mengamati peningkatan populasi ikan invasif yang berasal dari Amerika Selatan tersebut.
Ikan sapu‑sapu (Plecostomus sp.) dikenal memiliki daya tahan tubuh yang kuat, mampu hidup di perairan tercemar, serta menghasilkan ratusan telur per kali bertelur. Kondisi ini memungkinkan spesies tersebut berkembang biak dengan cepat dan berpotensi mendominasi habitat alami, mengancam ikan‑ikan lokal seperti wader serta mengganggu rantai makanan.
Pramono menegaskan bahwa operasi penangkapan tidak hanya terbatas pada Jakarta Pusat, melainkan akan diperluas ke semua wilayah yang tercatat memiliki populasi tinggi. “Saya akan meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, tapi di semua wilayah yang ikan sapu‑sapunya banyak untuk kita adakan operasi pembasmian,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Pemerintahan Wali Kota Jakarta Timur pada Minggu, 12 April 2026.
Sejak awal April, Dinas Ketahanan Pangan, Kehutanan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta bersama petugas gabungan telah menurunkan 40 ekor ikan sapu‑sapu di sebuah operasi di Jakarta Pusat. Namun, pengamatan di Kali Cideng sekitar Bundaran HI pada 13 April 2026 masih menunjukkan keberadaan ikan secara melimpah, meski telah dilakukan penangkapan massal. Ikan-ikan tersebut terlihat berkelompok di dasar kali yang keruh, dengan ukuran bervariasi dari kecil hingga cukup besar.
Komunitas pecinta ikan, yang dipimpin oleh Anton, pemilik toko “The FIN’s” di Kembangan, menilai upaya eradikasi secara total hampir mustahil. “Saya pribadi merasa sudah sangat susah dan tidak mungkin untuk menghilangkan ikan sapu‑sapu ini di perairan Jakarta karena penyebarannya sudah sangat parah dan luas,” ujarnya via WhatsApp pada 13 April 2026.
Anton menambahkan bahwa pencemaran air menjadi faktor utama yang memperkuat dominasi ikan sapu‑sapu. Karena ikan-ikan lain yang sensitif tidak dapat bertahan di lingkungan yang tercemar, sapu‑sapu justru berkembang dengan cepat. “Pencemaran air karena kimia dan sampah domestik dapat mematikan ikan‑ikan yang lebih lemah dibanding ikan sapu‑sapu yang sudah beradaptasi,” jelasnya.
Selain tantangan biologis, pemerintah harus memperhatikan prosedur pemusnahan yang ramah lingkungan. Kepala Dinas KPKP, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa ikan yang ditangkap harus dipastikan mati sebelum dikubur, mengingat kemampuan hidupnya yang tinggi. “Sebelumnya harus dipastikan sudah mati dulu baru dikubur. Karena ikan tersebut mempunyai kemampuan tinggi untuk bertahan hidup,” ujarnya dalam wawancara dengan Liputan6 pada 13 April 2026.
Berikut langkah‑langkah yang telah direncanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta:
- Mengidentifikasi titik‑titik dengan kepadatan populasi tinggi melalui survei lapangan dan citra satelit.
- Melakukan penangkapan massal menggunakan jaring khusus dan alat penangkap lainnya di lokasi prioritas.
- Memastikan kematian ikan sebelum proses pemusnahan akhir untuk menghindari risiko penyebaran kembali.
- Menanam kembali spesies ikan lokal yang terancam punah setelah area dibersihkan.
- Melaksanakan program rehabilitasi kualitas air, termasuk pengendalian limbah industri dan domestik.
Para ahli ekologi menekankan pentingnya pendekatan holistik. Pengendalian populasi ikan sapu‑sapu tidak dapat berhasil tanpa perbaikan kualitas air. Upaya pengurangan pencemaran, peningkatan fasilitas pengolahan limbah, serta edukasi masyarakat tentang dampak sampah plastik dan bahan kimia menjadi faktor kunci.
Secara keseluruhan, operasi pembasmian yang dipimpin oleh Gubernur Pramono Anung mencerminkan keseriusan DKI Jakarta dalam melindungi ekosistem sungai. Meskipun tantangan teknis dan ekologis masih besar, sinergi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan komunitas lokal diharapkan dapat menurunkan tekanan invasif ikan sapu‑sapu dan mengembalikan keseimbangan alam.
Keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada keberlanjutan program perbaikan kualitas air serta partisipasi aktif warga Jakarta dalam menjaga kebersihan sungai. Dengan komitmen bersama, harapan akan terwujudnya sungai-sungai yang kembali mendukung keanekaragaman hayati dan memberikan manfaat bagi masyarakat kota.











