Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 08 Mei 2026 | Operasi Epic Fury, sebuah operasi militer gabungan skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, telah dinyatakan berakhir oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Operasi ini dilakukan atas permintaan dan untuk membela Israel selaku sekutu dekat AS, serta untuk menjalankan hak inheren AS untuk membela diri.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri AS, operasi ini dilakukan karena Iran telah melakukan “agresi jahat” selama berpuluh-puluh tahun, khususnya terhadap AS, Israel, dan negara-negara Timur Tengah. AS juga menuduh Iran terus mempertahankan sikap bahwa Israel harus dimusnahkan dan mendukung serangan teroris terhadap Yahudi, Israel, dan kepentingan Israel di seluruh dunia.
Namun, baru-baru ini terjadi bentrokan antara pasukan AS dan Iran di Selat Hormuz, yang berisiko merusak gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran masih berlaku, meskipun terjadi bentrokan antara Iran dan kapal perusak Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
AS menuduh Iran meluncurkan rudal, drone, dan perahu kecil ke arah tiga kapal perangnya dalam apa yang disebut sebagai “serangan tanpa provokasi”. Trump bahkan menyebut Iran sedang “mempermainkan kita hari ini”. Sementara itu, Iran menuduh AS telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang masih berlangsung dengan menargetkan kapal tanker minyak Iran yang menuju Selat Hormuz.
Komando militer tertinggi Iran juga menuduh AS menyerang kapal-kapal militer AS di timur selat dan selatan pelabuhan Chabahar. Iran mengeklaim angkatan bersenjatanya “segera merespons” dengan menyerang kapal-kapal militer AS hingga menyebabkan “kerusakan signifikan”.
Presiden Trump kemudian memperingatkan Iran agar tidak meningkatkan ketegangan dan segera menandatangani kesepakatan. “Kami akan menghantam mereka jauh lebih keras dan jauh lebih brutal di masa depan jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan mereka!” tulis Trump di Truth Social.
Kesimpulan dari operasi Epic Fury dan bentrokan di Selat Hormuz ini masih belum jelas, namun yang pasti adalah bahwa situasi di Timur Tengah masih sangat tidak stabil dan berpotensi meningkat menjadi konflik yang lebih besar.











