Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menimbulkan gejolak diplomatik dengan menyoroti komentar Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menuduh Washington dipermalukan Iran dalam perundingan perdamaian. Trump menuduh Merz mencampuri urusan Timur Tengah sekaligus mengalihkan perhatian dari konflik berskala besar antara Rusia dan Ukraina. Kritik keras tersebut menambah deretan perselisihan yang mengancam hubungan transatlantik yang selama ini menjadi pilar keamanan NATO.
Dalam unggahan di platform media sosialnya, Trump menegaskan bahwa Merz harus lebih fokus pada upaya mengakhiri perang di Ukraina. “Kanselir Jerman seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengakhiri perang dengan Rusia/Ukraina, bukan mengganggu upaya menyingkirkan ancaman nuklir Iran,” tulis sang mantan presiden. Trump menambahkan, “Jika Merz tidak menghabiskan waktu untuk mencampuri pihak‑pihak yang sedang menyingkirkan ancaman nuklir Iran, dunia termasuk Jerman akan menjadi tempat yang lebih aman.”
Respons Merz muncul beberapa hari sebelumnya ketika ia menyatakan bahwa Tehran sedang “mempermalukan” Washington di meja perundingan. Pernyataan tersebut memicu reaksi tajam Trump, yang menuduh Merz menganggap wajar bagi Iran memiliki senjata nuklir. Ketegangan ini semakin memanas ketika Trump mengisyaratkan kemungkinan penarikan kembali ribuan tentara AS yang berposisi di Jerman.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyampaikan sikap “santai” Jerman terkait potensi pengurangan pasukan AS. Dalam sebuah konferensi pers di Maroko, Wadephul menegaskan bahwa Jerman siap membahas keputusan tersebut secara menyeluruh dan tetap mengandalkan kepercayaan dalam aliansi NATO. Ia menambahkan bahwa pangkalan-pangkalan besar seperti Ramstein memiliki fungsi tak tergantikan bagi keamanan bersama.
Penurunan pasukan AS di Jerman bukanlah isu baru. Presiden Trump sebelumnya pernah mengusulkan penyesuaian beban militer NATO, termasuk mengurangi kehadiran pasukan Amerika di Eropa. Namun, pernyataan terbaru ini muncul di tengah perselisihan pribadi antara Trump dan Merz, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur.
Para pengamat menilai bahwa perseteruan ini dapat menimbulkan konsekuensi strategis. Jika AS memutuskan mengurangi keberadaan militernya, Jerman harus menyiapkan kemampuan pertahanan yang lebih mandiri, sekaligus menjaga keseimbangan kekuatan dalam aliansi NATO. Di sisi lain, tekanan dari Trump dapat memaksa Merz untuk menyesuaikan kebijakan luar negeri Jerman, terutama dalam hal dukungan terhadap sanksi terhadap Iran dan bantuan militer kepada Ukraina.
Di dalam negeri, isu ini juga memicu perdebatan politik di Jerman tentang prioritas kebijakan keamanan, imigrasi, dan energi. Merz, yang baru saja menjabat sebagai Kanselir, berupaya menegaskan kembali komitmen Jerman pada aliansi transatlantik sambil mengkritik kebijakan luar negeri AS yang dianggapnya tidak konsisten.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai keputusan akhir AS untuk mengurangi pasukannya di Jerman. Namun, ketegangan antara Trump dan Merz menunjukkan bahwa hubungan bilateral berada pada titik kritis, dan perkembangan selanjutnya akan menjadi sorotan utama bagi komunitas internasional.
Kesimpulannya, perselisihan antara Donald Trump dan Friedrich Merz mencerminkan dinamika kompleks antara kepentingan nasional, aliansi militer, dan isu-isu strategis seperti Iran serta konflik Rusia‑Ukraina. Kedepannya, keputusan tentang penarikan pasukan AS dan arah kebijakan luar negeri Jerman akan sangat memengaruhi stabilitas keamanan di Eropa dan kawasan sekitarnya.









