Ekonomi

Imbal Hasil Tinggi, Investasi Asing ke Pindar Lokal Melonjak

×

Imbal Hasil Tinggi, Investasi Asing ke Pindar Lokal Melonjak

Share this article
Imbal Hasil Tinggi, Investasi Asing ke Pindar Lokal Melonjak
Imbal Hasil Tinggi, Investasi Asing ke Pindar Lokal Melonjak

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Agustus 2026 | Industri pinjaman daring (pindar) Indonesia terus menarik perhatian investor asing. Pada Juni 2026, pendanaan dari lender luar negeri ke industri pindar mencapai Rp17,28 triliun, melonjak 34,18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan kenaikan ini menunjukkan industri pindar Indonesia memiliki daya tarik tinggi bagi investor asing. "Daya tarik tersebut antara lain didukung oleh potensi imbal hasil yang relatif kompetitif," kata Agusman.

📖 Baca juga:
CoinMarketCap Jadi Sorotan Utama: Listing Pepeto, Prediksi Harga Cardano, dan Langkah Sberbank di Pasar Kripto

Namun, peningkatan pendanaan asing ini berlangsung ketika industri pindar masih menghadapi persoalan kualitas pembiayaan. Pada Juni 2026, OJK mencatat masih terdapat 16 penyelenggara pindar dengan TWP90 di atas 5%, meski jumlah tersebut turun dari 18 penyelenggara pada Mei. Mayoritas penyelenggara dengan tingkat TWP90 di atas 5% tersebut memiliki karakteristik pendanaan produktif.

Agusman mengatakan OJK telah meminta penyelenggara terkait melakukan langkah perbaikan dan meningkatkan pengawasan. "Ini termasuk menetapkan sebagian penyelenggara dalam status pengawasan intensif atau khusus sesuai ketentuan," ujarnya.

Fenomena ini memperlihatkan dua sisi industri pindar yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, risiko kredit masih menjadi perhatian regulator. Di sisi lain, investor asing justru meningkatkan eksposurnya terhadap industri tersebut. Bahkan, OJK mencatat laba industri pindar pada Juni 2026 tercatat Rp 1,15 triliun, tumbuh 10,14% yoy.

Agusman menyebut tingkat pembiayaan bermasalah memang dapat memberikan tekanan terhadap profitabilitas, tetapi hingga Juni industri pindar masih mampu mencatat pertumbuhan laba seiring pertumbuhan penyaluran pendanaan. "Peluang industri pindar untuk melampaui capaian laba tahun 2025 masih terbuka, didukung antara lain oleh pertumbuhan penyaluran pendanaan, penguatan manajemen risiko, dan peningkatan kualitas credit scoring," kata Agusman.

📖 Baca juga:
Rupiah terlemah Mengancam Ekonomi: Ekonom Prediksi Tekanan Berlanjut hingga Akhir Tahun

Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas dan perak di pasar spot Amerika Serikat menguat. Pergerakan ini terjadi seiring langkah pasar yang menyeimbangkan rilis data ketenagakerjaan AS yang melemah pada pekan lalu dengan naiknya kembali harga minyak, imbal hasil (yield) obligasi Treasury, serta ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Di sisi lain, pasar saham di kawasan Amerika Utara justru mengalami pelemahan dari level rekor tertingginya. Indeks S&P 500 turun tipis 0,1% menjadi 7.753,11, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,1% ke 53.975,98, Nasdaq Composite melemah 0,3% ke 26.605,36, dan Russell 2000 merosot 0,6% ke level 3.017,40.

Sementara itu, bursa saham Eropa bergerak variatif cenderung melemah. Indeks FTSE 100 London turun 0,5% ke 10.845, CAC 40 Prancis turun 0,1%, sedangkan DAX Jerman masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,35%.

Kondisi ini membuat investor lebih selektif dan mendorong aksi ambil untung, sehingga ruang penguatan IHSG masih terbatas. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8), sore ditutup melemah 44,28 poin atau 0,69 persen ke posisi 6.365,37 seiring adanya kombinasi sentimen dari tingkat domestik dan global.

📖 Baca juga:
Harga Emas 24 Karat Turun, Saham Emiten Emas Bergerak Bervariasi

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,16 poin atau 0,96 persen ke posisi 634,13. "Pergerakan IHSG dipengaruhi katalis sentimen eksternal dan juga internal," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.

Dari dalam negeri, hasil survei Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 menunjukkan perlambatan, yang mana turun menjadi 116,8 dari bulan sebelumnya di posisi 117,8. Meskipun secara level berada pada tingkat optimis (indeks >100), namun demikian penurunan IKK tersebut memberikan indikasi melemahnya daya beli konsumen seiring kondisi ekonomi rumah tangga.

Penurunan tersebut juga di dukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tetap berada pada level optimis masing-masing sebesar 107,9 dan 125,7, atau lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya masing-masing sebesar 109,2 dan 126,4.

Kesimpulan, industri pindar Indonesia terus menarik perhatian investor asing dengan imbal hasil yang relatif kompetitif. Namun, regulator harus terus memantau kualitas pembiayaan dan mengambil langkah perbaikan untuk meningkatkan pengawasan. Sementara itu, investor harus lebih selektif dan mendorong aksi ambil untung, sehingga ruang penguatan IHSG masih terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *