Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 Juni 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyambut baik kesepakatan kerangka trilateral yang ditandatangani Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat. Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan langkah historis menuju perdamaian yang sekaligus memberikan pukulan bagi Iran dan kelompok Hizbullah.
Dalam pernyataannya, Netanyahu mengatakan kesepakatan yang dimediasi AS itu merupakan hasil dari perundingan langsung antara Israel dan Lebanon. Ia menilai kemampuan Hizbullah untuk mempertahankan kekuatan militernya di dekat wilayah perbatasan menjadi salah satu tantangan keamanan terbesar.
Kesepakatan tersebut mencakup upaya menjaga keamanan perbatasan, menghentikan aksi militer yang dapat memicu konflik baru, serta mencegah kelompok bersenjata menggunakan wilayah Lebanon selatan untuk melancarkan serangan terhadap Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan militer negaranya bersiap mempertahankan kehadiran pasukan dalam jangka panjang di Lebanon selatan, dan tidak akan menarik pasukan sebelum kelompok Hizbullah dilucuti dari seluruh wilayah.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebut kesepakatan tersebut sebagai “langkah pertama” menuju pemulihan kedaulatan negaranya. Namun, kesepakatan itu juga mendapat penolakan dari Hizbullah dan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan pemerintah Lebanon telah melakukan kesalahan besar dengan menyetujui kerangka perjanjian tersebut. Ia menegaskan Hizbullah akan tetap melanjutkan perlawanan bersenjata.
Penolakan juga datang dari Ben Gvir yang menyebut perjanjian itu sebagai sebuah kesalahan besar. Menurutnya, pemerintah Lebanon tidak dapat dipercaya untuk melucuti senjata Hizbullah.
Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas sejak 2 Maret setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel. Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran dan operasi darat di Lebanon selatan yang menghancurkan ribuan bangunan dan hingga kini masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah.
Dalam kesimpulan, kesepakatan Israel-Lebanon yang dimediasi AS merupakan langkah historis menuju perdamaian, namun masih mendapat penolakan dari beberapa pihak. Israel dan Lebanon harus terus berusaha untuk mencapai perdamaian yang langgeng dan menghindari konflik di masa depan.











