Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 19 April 2026 | Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato berapi-api pada acara peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). Acara yang bertajuk “Relevansi Gerakan Asia‑Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” menjadi panggung bagi Megawati untuk menegaskan kembali semangat solidaritas antarnegara di kawasan Asia dan Afrika serta mengajukan usulan strategis.
Konferensi Asia‑Afrika pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955 di Bandung, menandai komitmen negara‑negara baru yang baru merdeka untuk menolak dominasi kolonial serta membentuk tatanan internasional yang lebih adil. Peringatan 70 tahun tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan momen refleksi terhadap tantangan zaman yang kini diwarnai oleh praktek neo‑kolonialisme, persaingan ekonomi besar, dan konflik regional yang menguji kedaulatan bangsa‑bangsa.
Dalam sambutannya, Megawati menegaskan bahwa dunia kini berada pada “krisis geopolitik” yang menuntut hadirnya forum internasional baru yang mampu menghidupkan kembali nilai‑nilai solidaritas yang menjadi inti KAA. Ia mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia‑Afrika Jilid II sebagai respons strategis atas dinamika geopolitik global, menyebut bahwa “pemikiran geopolitik Bung Karno” harus menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia.
Megawati menyoroti beberapa isu krusial: intervensi militer asing, ketimpangan dalam sistem perdagangan internasional, serta upaya negara‑negara kuat memaksakan standar‑standar mereka kepada negara‑negara berkembang. “Kita tidak dapat membiarkan tatanan dunia yang tidak mencerminkan keadilan bagi semua,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Asia‑Afrika memiliki potensi ekonomi, budaya, dan politik yang dapat menjadi penyeimbang kekuatan Barat dan Timur.
Reaksi cepat muncul dari kalangan politisi dan pakar hubungan internasional. Beberapa analis menilai usulan Megawati sebagai langkah visioner yang dapat memperkuat peran Indonesia sebagai mediator regional. Sementara itu, partai-partai oposisi menekankan perlunya konsensus luas sebelum melangkah lebih jauh, mengingat tantangan logistik dan pendanaan yang signifikan.
Jika Konferensi Asia‑Afrika Jilid II dilaksanakan, agenda yang diusulkan mencakup beberapa topik utama:
- Pembaruan prinsip non‑intervensi dan kedaulatan dalam era digital.
- Kerjasama ekonomi berkelanjutan, termasuk perdagangan energi terbarukan antara negara‑negara anggota.
- Strategi kolektif menghadapi perubahan iklim dan keamanan pangan.
- Pembangunan infrastruktur lintas‑benua melalui mekanisme pembiayaan yang adil.
- Peningkatan peran budaya dan pendidikan dalam memperkuat identitas Asia‑Afrika.
Pengusulan ini juga dipandang sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kebijakan luar negeri yang bersifat independen namun pro‑aktif. Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia, Indonesia dapat menjadi jembatan antara blok‑blok besar, sekaligus menggalang dukungan bagi inisiatif multilateral yang menolak dominasi satu pihak.
Secara keseluruhan, pidato Megawati pada peringatan 70 tahun KAA menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap nilai‑nilai kebersamaan, kedaulatan, dan keadilan internasional. Usulan Konferensi Asia‑Afrika Jilid II menjadi cerminan upaya menyiapkan platform dialog yang relevan dengan dinamika geopolitik kontemporer, sekaligus menghidupkan kembali semangat Bandung dalam konteks global yang semakin kompleks.











