Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 03 Juni 2026 | Harga Bitcoin terus menurun, dengan penurunan lebih dari 11% dalam sebulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi dan konflik di Timur Tengah. Beberapa investor besar, seperti Mark Cuban, telah memutuskan untuk menjual sebagian besar saham Bitcoin mereka.
Menurut Tom Lee, chairman Fundstrat, penjualan besar-besaran Bitcoin ini telah menyebabkan ‘rage quitting’ di kalangan investor. Ia percaya bahwa penurunan harga Bitcoin ini adalah bagian dari proses ‘crypto winter’ yang biasa terjadi dalam pasar kripto.
Sementara itu, investor lain mulai beralih ke AI trading bots untuk mencari peluang investasi yang lebih menguntungkan. AIX Alpha adalah salah satu contoh AI trading bot yang dapat membantu investor membuat keputusan investasi yang lebih tepat.
Bitcoin juga menghadapi persaingan dari token AI lainnya, seperti Humanity Protocol (H) dan Near Protocol (NEAR), yang telah mengalami kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir. DeFi, di sisi lain, terus mengalami penurunan, dengan total nilai yang dikunci (TVL) mencapai $78 miliar, yang merupakan level terendah sejak Oktober 2024.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga Bitcoin telah mencapai titik terendah sejak April, dengan penurunan lebih dari 2% dalam 24 jam terakhir. Penjualan besar-besaran oleh investor besar dan lembaga keuangan telah menyebabkan tekanan jual yang kuat pada harga Bitcoin.
Namun, beberapa analis percaya bahwa harga Bitcoin masih memiliki potensi untuk naik, terutama jika investor mulai mempertimbangkan kembali potensi jangka panjang dari cryptocurrency ini. Dalam jangka pendek, harga Bitcoin mungkin akan terus mengalami fluktuasi, tetapi dalam jangka panjang, potensi untuk pertumbuhan masih ada.
Kesimpulan, harga Bitcoin terus menurun, tetapi investor harus tetap waspada dan mempertimbangkan potensi jangka panjang dari cryptocurrency ini. Dengan demikian, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih tepat dan menguntungkan.











