Bencana Alam

Gempa Bumi Mengguncang Kupang dan Wilayah Lainnya: Apa yang Terjadi?

×

Gempa Bumi Mengguncang Kupang dan Wilayah Lainnya: Apa yang Terjadi?

Share this article
Gempa Bumi Mengguncang Kupang dan Wilayah Lainnya: Apa yang Terjadi?
Gempa Bumi Mengguncang Kupang dan Wilayah Lainnya: Apa yang Terjadi?

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 27 Juli 2026 | Gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 18.57 WITA. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Kepala Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama menjelaskan bahwa episentrum gempa berada di darat, sekitar 18 kilometer timur laut Kupang, pada koordinat 10,16 derajat Lintang Selatan dan 123,77 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 44 kilometer. Hasil analisis menunjukkan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi, dengan mekanisme sumber gempa berupa sesar naik (thrust fault).

📖 Baca juga:
Satgas PRR Percepat Pemulihan: Huntara Rampung, Huntap Dikebut, dan Desakan Satgas Provinsi

BMKG juga memastikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Intensitas gempa mencapai skala V MMI di Sulamu, Fatuleu Barat, Kupang Timur, dan Kota Oelamasi, dengan getaran dirasakan hampir seluruh penduduk dan sejumlah barang dapat terjatuh atau bergeser.

Sementara itu, guncangan dengan intensitas IV MMI dirasakan di Kota Kupang, So’e Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan Ba’a Kabupaten Rote Ndao. Getaran pada skala ini dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan sebagian warga dilaporkan berhamburan keluar bangunan.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa serta terus memantau informasi resmi yang dikeluarkan BMKG melalui kanal komunikasi resminya.

📖 Baca juga:
Gempa Bumi Mengguncang Indonesia: Berita Terkini dari Berbagai Daerah

Di wilayah lain, seperti Sulawesi Tenggara, terjadi 14 kali gempa bumi dalam sepekan, dengan magnitudo terbesar tercatat di Kabupaten Konawe Utara pada 22 Juli dengan kekuatan 3,1 SR. Aktivitas sesar terjadi sebanyak 14 kali di Konawe Kepulauan, Kolaka Timur, Konawe Selatan, Kendari, dan Konawe Utara.

Penelitian terbaru di bidang arkeoseismologi juga mengungkap kemungkinan adanya peran bencana alam besar yang turut mempercepat keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dosen Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Ir. Firman Syaifuddin, S.Si., M.T. menjelaskan bahwa kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit, menyimpan banyak bukti geologi yang mengarah pada terjadinya gempa bumi purba, likuifaksi, hingga banjir lahar.

Keruntuhan Kerajaan Majapahit selama ini lebih banyak dikaitkan dengan konflik politik, perang saudara, dan peralihan kekuasaan. Namun, kajian terbaru ini mengungkap bahwa bencana alam besar juga dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat keruntuhan kerajaan tersebut.

📖 Baca juga:
Longsor Gegerkalong Bandung: Kronologi, Dampak, dan Upaya Penanganan

Kesimpulan dari berbagai peristiwa gempa bumi yang terjadi di Indonesia adalah bahwa gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan dapat memiliki dampak yang signifikan pada masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk selalu siap dan waspada dalam menghadapi bencana alam seperti gempa bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *