Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 April 2026 | Pertandingan Premier League pekan ke-33 pada Sabtu 27 April 2026 menyajikan duel sengit antara West Ham United dan Everton di London Stadium. Dengan skor akhir 2-1, The Hammers berhasil meraih tiga poin penting berkat gol penentu Callum Wilson di menit-menit akhir. Bagi Everton, kekalahan ini menambah deretan kekecewaan setelah serangkaian hasil yang menurunkan harapan mereka untuk finis di zona Eropa.
Gol pertama tercipta pada menit ke-23 melalui serangan balik cepat West Ham. Setelah memenangkan bola di lini tengah, Soucek mengirimkan umpan terobosan kepada Toney yang menaklukkan pertahanan Everton dengan satu tembakan keras. Everton kembali ke jalur mereka pada menit ke-37 lewat gol balasan dari Dominic Calvert-Lewin, memanfaatkan kesalahan posisi bek tengah The Hammers. Kedua tim berulang-ulang menyerang, namun hanya Wilson yang menambah keunggulan pada menit ke-87 lewat tendangan satu lawan satu yang tak terhentikan.
Reaksi suporter
- Gary (West Ham): “Bermain sangat tegang, pertahanan dan serangan bagus tapi masih terlalu banyak kehilangan bola. Terus berjuang!”
- Bubba (West Ham): “Catenaccio tak cocok di Premier League modern. Kami terlalu defensif di menit 80, hampir menghilangkan usaha fantastis tim.”
- Tricky Tev (West Ham): “Kami masih kesulitan menahan keunggulan, Nuno harus lebih tegas pada pergantian pemain.”
- Jameson (Everton): “Penampilan sangat mengecewakan, McNeil seharusnya diganti setelah kesalahan di laga sebelumnya.”
- Mark (Everton): “VAR rusak, keputusan tidak adil, terutama soal penalti yang tak diberikan.”
Kontroversi utama muncul ketika Everton mengklaim bahwa mereka seharusnya diberikan penalti pada menit ke-55 setelah Taty Castellanos terjatuh di area penalti. Keputusan tersebut memicu protes resmi kepada PGMOL, badan pengatur wasit Inggris, yang kemudian menjadi sorotan media. Mantan ketua PGMOL, Keith Hackett, menyatakan bahwa penjaga gawang Jordan Pickford seharusnya menerima kartu merah setelah melakukan tantangan berbahaya terhadap Castellanos, menuding aksi tersebut sebagai “serious foul play”.
Sementara itu, kritik tajam diarahkan pada manajer David Moyes terkait kebijakan transfer musim panas lalu. Everton menghabiskan dana besar namun hanya menambah satu striker, Thierno Barry, sementara tiga penyerang utama—Dominic Calvert-Lewin, Neal Maupay, dan Youssef Chermiti—pergi. Kekurangan pilihan di lini depan kembali terasa jelas ketika Toffees gagal mencetak lebih banyak gol melawan pertahanan West Ham yang solid.
Analisis taktis
Nuno Espírito Santo memilih formasi 3-5-2 yang menekankan kontrol lini tengah. Namun, pada 80 menit ia mengubah taktik menjadi lebih defensif, yang menurut sebagian suporter justru memberi ruang bagi Everton untuk menyerang kembali. Di sisi lain, David Moyes tampak ragu dalam merespon tekanan, khususnya dalam pergantian pemain di babak kedua. Keputusan untuk tetap menurunkan Jordan Pickford pada menit-menit akhir menambah bahan perdebatan, mengingat insiden dengan Castellanos yang berpotensi mengubah hasil akhir.
Secara klasemen, kemenangan West Ham mengangkat mereka ke posisi 7 dengan 42 poin, sementara Everton tetap berada di zona 9 dengan 38 poin, menambah tekanan pada masa akhir musim. Kedua tim kini harus mengatasi kelemahan masing-masing: West Ham harus menambah konsistensi dalam serangan, sementara Everton harus memperkuat lini depan dan menuntut keadilan dari otoritas pertandingan.
Kesimpulannya, laga West Ham vs Everton tidak hanya menghasilkan skor 2-1, tetapi juga membuka perdebatan tentang keadilan keputusan wasit, kebijakan transfer, dan strategi manajerial. Jika kedua klub ingin melaju lebih jauh, mereka harus belajar dari kesalahan ini—West Ham dengan menyeimbangkan pertahanan dan serangan, Everton dengan memperbaiki lini serang serta menuntut transparansi dalam penanganan keputusan VAR.











