Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 19 April 2026 | Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi sorotan dunia setelah membela harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai melambung tinggi. Dalam pidato di KTT Semafor World Economy 2026 di Washington, ia menegaskan bahwa turnamen empat tahunan tersebut merupakan satu‑satunya sumber pendapatan utama FIFA, dan oleh karena itu organisasi tersebut harus mengelola dana tersebut untuk mendukung perkembangan sepak bola di 211 negara anggota.
Infantino menyebut pasar tiket Piala Dunia 2026 di Amerika Utara sebagai "sangat khusus". Ia menolak perbandingan dengan konser atau pertandingan NFL, dengan alasan bahwa struktur penjualan tiket bersifat dinamis dan menyesuaikan dengan permintaan. Sejak penjualan tahap pertama pada Oktober 2025, FIFA mengimplementasikan skema harga dinamis yang menyebabkan kenaikan signifikan pada menit‑menit akhir penjualan. Data yang diungkapkan oleh beberapa penggemar menunjukkan bahwa tiket untuk sekitar 40 dari 104 pertandingan mengalami kenaikan harga yang tajam.
Contoh harga yang mencuat antara lain:
- Pertandingan pembuka di Stadion Azteca dipatok sekitar US$1.359 per tiket.
- Kursi di lower bowl Los Angeles mencapai US$14.000.
- Tiket final di wilayah New York berkisar US$8.860 untuk tingkat atas dan sampai US$25.000 untuk lower bowl.
Menanggapi kritik, FIFA kemudian menambahkan kategori tiket US$60 yang ditujukan bagi penonton dengan daya beli lebih rendah, meskipun kuota awalnya terbatas dan harus ditambah pada Desember 2025. Infantino juga mengakui bahwa ia tidak mengetahui sebelumnya praktik resale tiket yang diizinkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, meski tetap berada di bawah regulasi lokal.
Selain isu harga, Infantino harus menjawab pertanyaan tentang kebijakan non‑profit FIFA. Ia menekankan bahwa seluruh pendapatan yang dihasilkan selama satu bulan Piala Dunia diinvestasikan kembali untuk mendanai program pengembangan sepak bola di negara‑negara yang bergantung pada bantuan FIFA. Sekitar tiga perempat negara anggota, menurutnya, tidak akan mampu menyelenggarakan kompetisi tanpa dukungan tersebut.
Kontroversi tidak hanya terbatas pada aspek komersial. Di panggung internasional, Presiden Asosiasi Sepak Bola Ukraina, Andriy Shevchenko, secara terbuka mengundang Infantino serta Presiden UEFA Aleksander Čeferin ke Ukraina sebagai bentuk protes terhadap kembalinya Rusia ke kompetisi internasional. Shevchenko menegaskan posisi Ukraina yang menolak partisipasi Rusia dalam sepak bola, sekaligus mengkritik pernyataan Infantino pada Februari 2026 yang menyatakan kesiapan untuk membahas pencabutan sanksi terhadap tim‑tim Rusia.
Permintaan Shevchenko muncul di tengah laporan bahwa pemerintah Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, memberlakukan larangan perjalanan bagi warga beberapa negara, termasuk Iran dan Haiti, yang berpotensi mempengaruhi partisipasi tim‑tim tersebut di Piala Dunia 2026. Infantino berjanji akan berkoordinasi dengan otoritas imigrasi Amerika, Kanada, dan Meksiko untuk memastikan pemain, ofisial, dan penonton yang memiliki tiket tetap dapat memperoleh visa.
Keluhan resmi juga datang dari kelompok suporter Football Supporters Europe yang menggandeng organisasi hak konsumen Euroconsumers. Mereka menuduh FIFA menyalahgunakan posisi monopoli dengan menetapkan harga tiket yang berlebihan serta prosedur pembelian yang tidak transparan. Sebagai respons, FIFA menyatakan akan meningkatkan transparansi proses penjualan dan meninjau kembali kebijakan harga dinamis.
Di sisi lain, laporan The Athletic menyoroti fakta bahwa kategori tiket US$60, yang dipromosikan sebagai solusi bagi penonton berpenghasilan rendah, masih terbatas dan menimbulkan kekecewaan di kalangan suporter Eropa. FIFA kemudian menambah kuota tiket tersebut pada Desember, namun permintaan masih jauh melampaui pasokan.
Secara keseluruhan, sikap Infantino mencerminkan dilema antara kebutuhan finansial FIFA sebagai organisasi nirlaba yang bergantung pada satu event besar, dan ekspektasi publik yang menuntut akses yang lebih terjangkau serta proses yang adil. Sementara itu, undangan Shevchenko menambah dimensi politik pada perdebatan, menyoroti bagaimana sepak bola terus menjadi arena persaingan geopolitik di era pasca‑pandemi.
Dengan Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di tiga negara tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—tantangan logistik, keamanan, serta kebijakan visa akan menjadi sorotan utama menjelang pembukaan pada 11 Juni 2026 di Stadion Azteca. Bagaimana FIFA menyeimbangkan kebutuhan pendanaan, keadilan bagi penonton, dan tekanan politik internasional akan menjadi faktor penentu keberhasilan turnamen tersebut.











