Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 19 April 2026 | Turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia akan kembali ke benua Amerika Utara pada tahun 2026 dengan format terluas dalam sejarah. FIFA World Cup 2026, yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menampilkan 48 tim, 104 pertandingan, serta periode kompetisi selama 37 hari mulai 11 Juni hingga 19 Juli.
Format baru memperkenalkan 12 grup berisi masing‑masing empat tim, kemudian dilanjutkan dengan fase knockout hingga babak Round of 32. Perubahan ini memberikan kesempatan lebih banyak negara untuk berkompetisi di fase grup, sekaligus menambah jumlah pertandingan yang akan disiarkan secara global.
Jadwal resmi telah diumumkan pada 19 April 2026. Pembukaan turnamen dijadwalkan pada 11 Juni di Stadion Azteca, Mexico City, dengan laga pembuka antara Meksiko melawan Afrika Selatan. Babak final dijadwalkan pada 19 Juli di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat.
Berikut adalah contoh beberapa pertandingan fase grup pertama:
| Hari | Grup | Tim | Waktu (lokal) | Stadion |
|---|---|---|---|---|
| Jumat, 12 Juni | A | Korea Selatan vs Republik Ceko | 03:00 | Zapopan, Meksiko |
| Sabtu, 13 Juni | D | USA vs Paraguay | 02:00 | Los Angeles, AS |
| Sabtu, 13 Juni | B | Katar vs Swiss | 20:00 | Santa Clara, AS |
| Sabtu, 13 Juni | C | Brasil vs Maroko | 23:00 | New Jersey, AS |
Selain sorotan pada jadwal, isu lain yang menjadi perbincangan hangat adalah kenaikan drastis harga tiket transportasi di sekitar venue. Menurut laporan Associated Press pada 18 April 2026, tarif kereta api pulang‑pergi antara Penn Station, New York, dan MetLife Stadium meningkat dari $12,90 menjadi $150 per tiket untuk setiap pertandingan. Kenaikan hampir 12 kali lipat tersebut diperkirakan diperlukan untuk menutupi biaya tambahan infrastruktur yang timbul akibat penyelenggaraan turnamen pertama kali sejak 1994.
Kebijakan tarif tinggi memicu kritik dari anggota Kongres Amerika Serikat, Mikie Sherrill, yang menilai harga tersebut tidak adil bagi warga dan penggemar sepak bola yang harus menempuh jarak jauh. Sherrill menyoroti bahwa hampir 40.000 penonton diproyeksikan menggunakan transportasi massal per pertandingan, sehingga beban biaya menjadi signifikan.
Di sisi lain, mantan pemain internasional Amerika Serikat, Taylor Twellman, mengungkapkan keprihatinannya terkait aksesibilitas stadion dan ketersediaan parkir. Twellman menekankan bahwa tanpa solusi transportasi yang terjangkau, antusiasme publik terhadap turnamen dapat menurun, terutama bagi keluarga dengan anggaran terbatas.
FIFA sendiri, dipimpin oleh Presiden Gianni Infantino, berargumen bahwa penyesuaian tarif merupakan langkah logis untuk menutupi pengeluaran operasional yang meliputi keamanan, pemeliharaan lapangan, dan peningkatan layanan penonton. Infantino menambahkan bahwa seluruh pendapatan dari tiket transportasi akan dialokasikan kembali ke program pengembangan sepak bola di wilayah Amerika Utara.
Di luar tantangan logistik, turnamen ini juga menjadi platform penting bagi promosi pariwisata dan ekonomi regional. Kota-kota tuan rumah seperti Toronto, Vancouver, Houston, dan Atlanta diprediksi akan menerima lonjakan kunjungan wisatawan, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi lokal.
Secara keseluruhan, FIFA World Cup 2026 menjanjikan pengalaman kompetitif yang lebih luas, namun juga menuntut koordinasi lintas‑negara yang intensif antara otoritas olahraga, pemerintah, dan operator transportasi. Bagaimana respons publik terhadap harga tiket yang melonjak dan upaya penyedia layanan dalam menanggapi kritik akan menjadi indikator utama kesuksesan penyelenggaraan turnamen ini.
Jika semua pihak dapat menemukan titik temu, FIFA World Cup 2026 tidak hanya akan mencetak sejarah baru dalam hal format dan skala, tetapi juga menjadi contoh kolaborasi internasional yang efektif dalam menyelenggarakan acara olahraga mega.











