Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 26 April 2026 | Chelsea kembali berada dalam krisis kepelatihan setelah mengakhiri masa jabatan Liam Rosenior pada Rabu (22/4). Pemecatan itu dipicu oleh serangkaian lima kekalahan beruntun di Premier League tanpa satu gol pun tercipta. Sebagai solusi jangka pendek, klub Inggris tersebut menunjuk Calum McFarlane sebagai pelatih interim hingga akhir musim, dengan tugas pertamanya menghadapi Leeds United di semifinal Piala FA pada Minggu (26/4).
Sementara itu, nama mantan gelandang Chelsea, Cesc Fabregas, terus mencuat sebagai kandidat potensial untuk mengisi kursi manajer di Stamford Bridge. Fabregas kini menjabat sebagai pelatih kepala klub Serie A, Como 1907, setelah berhasil memimpin tim tersebut ke posisi kelima klasemen pada musim debutnya. Prestasi tersebut menempatkan Como dalam persaingan ketat untuk lolos ke kompetisi Eropa, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah klub.
Dalam konferensi pers jelang pertandingan melawan Genoa, Fabregas menegaskan bahwa ia tidak ingin teralihkan oleh spekulasi. “Saya tidak punya komentar soal itu. Fokus saya hanya pada lima laga tersisa dan membantu Como mencapai target historis kami,” ujar Fabregas, mengutip Daily Mail. Ia menambahkan bahwa tujuan utama adalah memastikan Como mengamankan tempat di zona Eropa, sekaligus mencetak sejarah pribadi sebagai pelatih pertama klub tersebut yang berhasil menembus kompetisi kontinental.
Presiden Como, Mirwan Suwarso, memberikan sinyal terbuka mengenai sikap klub terhadap kemungkinan kepindahan Fabregas. “Jika itu membuatnya bahagia, ya silakan. Kami tentu ingin dia bertahan lama, tapi pada akhirnya kami tidak memiliki hak untuk menahannya. Dia bebas pergi ke Chelsea jika memang itu keinginannya,” kata Suwarso dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media pada 25 April 2026. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa klub tidak akan menghalangi Fabregas untuk menerima tawaran manajer dari klub asalnya, asalkan ia tidak bergabung dengan rival Serie A lain.
Suara lain yang muncul adalah terkait kepemilikan saham Fabregas di Como. Ia diketahui memiliki minoritas saham bersama legenda Arsenal, Thierry Henry. Suwarso menambahkan bahwa Fabregas dapat tetap mempertahankan kepemilikan sahamnya meski pindah ke klub lain, asalkan tidak beralih ke tim Italia yang menjadi pesaing langsung Como.
Situasi di Stamford Bridge sendiri tak kalah menegangkan. Setelah pemecatan Rosenior, Chelsea mengandalkan McFarlane untuk menstabilkan performa tim. Namun, tekanan untuk menemukan pelatih permanen sudah memuncak, mengingat ekspektasi tinggi dari pemilik klub, Todd Boehly, dan para pendukung. Nama-nama yang disebut-sebut selain Fabregas antara lain mantan manajer Inggris, Andoni Iraola, serta pelatih-pelatih berpengalaman lainnya.
Di sisi lain, Fabregas menegaskan komitmennya terhadap Como hingga akhir musim. “Kami masih memiliki lima pertandingan penting. Fokus saya sepenuhnya pada pertandingan berikutnya melawan Genoa,” katanya lagi, menolak segala spekulasi tentang kepindahan ke Liga Inggris. Ia menambahkan bahwa timnya sedang berada di posisi kelima dengan 58 poin, hanya lima poin dari Juventus yang berada di posisi keempat.
Jika Fabregas memang memutuskan untuk kembali ke Chelsea, hal itu tidak hanya akan menjadi momen emosional bagi pendukung Blues, tetapi juga menandai langkah penting dalam karier kepelatihannya. Pada usia 38 tahun, ia masih berada dalam fase awal karier manajerial, dan tantangan di salah satu klub terbesar Inggris dapat menjadi batu loncatan atau ujian berat sekaligus.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Fabregas. Sementara Chelsea terus mencari pelatih definitif, tekanan pada klub semakin menguat. Bagi Como, kehilangan sosok seperti Fabregas dapat mengganggu momentum yang telah dibangun, terutama menjelang fase akhir Serie A. Kedua belah pihak kini berada dalam situasi yang saling tergantung, menunggu keputusan yang akan mempengaruhi nasib dua klub besar di dua liga terkemuka.











