Bisnis

Emiten Indonesia Menghadapi Tantangan dan Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

×

Emiten Indonesia Menghadapi Tantangan dan Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Share this article
Emiten Indonesia Menghadapi Tantangan dan Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Emiten Indonesia Menghadapi Tantangan dan Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 23 Juni 2026 | Indeks Bisnis-27 dibuka di zona merah pada level 414,04 pada perdagangan awal pekan, Selasa (24/6/2026). Sejumlah saham seperti PTBA, AKRA, hingga BBCA ambrol ke zona merah pagi ini. Emiten batu bara PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menjadi salah satu emiten yang melemah pagi ini. Saham PTBA turun 4,67% ke level Rp2.450 per saham pada perdagangan pagi ini.

Kemudian saham PT AKR Corporation Tbk. (AKRA) juga melemah 2,37% ke level Rp1.235 pagi ini. Demikian juga dengan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun 1,61% ke level Rp6.125 per saham. Emiten lainnya yang juga dibuka melemah dalam indeks ini adalah BBNI 1,43% ke level Rp3.440, dan saham BMRI yang turun 1,42% ke level Rp4.160.

📖 Baca juga:
Saham BBCA Anjlok, Apa yang Terjadi di Balik Pelemahan Saham di Bursa Efek Indonesia?

Sementara itu, saham yang menguat dalam indeks ini adalah DEWA naik 1,72% ke level Rp354, MBMA menguat 0,99% ke level Rp510, dan saham BRMS naik 0,79% ke level Rp640. Di sisi lain, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) yang melakukan initial public offering (IPO) dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% modal setelah IPO dengan kisaran harga Rp135-Rp170 per saham.

RANS membukukan pendapatan sebesar Rp353,3 miliar pada 2025, turun 13,9% dibandingkan 2024. Laba bersih perseroan juga menyusut 41,6% menjadi Rp56,7 miliar dari Rp97,1 miliar pada 2024. Sementara itu, laba bersih RANS pada 2024 tercatat meningkat 15,04% dari Rp84,4 miliar pada 2023 menjadi Rp97,1 miliar.

📖 Baca juga:
IHSG Anjlok, Saham BBCA dan Big Banks Terkena Dampak

PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu ketidakpastian geopolitik berpotensi meningkatkan biaya produksi perusahaan, terutama pada komponen bahan pendukung seperti kemasan. Direktur PT Buyung Poetra Sembada Tbk, Budiman Susilo, mengatakan kenaikan kurs akan berdampak langsung terhadap harga bahan pendukung yang sebagian masih bergantung pada impor.

Di sisi lain, PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk (KKES) optimistis dapat melanjutkan tren pertumbuhan pada 2026. Entitas anak CSA Group tersebut membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 8,2% dan berhasil mencatatkan laba bersih positif pada triwulan pertama tahun ini (Q1-2026), berbalik dari posisi rugi pada periode yang sama tahun lalu.

📖 Baca juga:
Saham Pilihan Analis, Akses Fundamental, dan Dampak Regulasi: Apa yang Terjadi pada BBCA dan GOTO Hari Ini?

Pertumbuhan penjualan tersebut menunjukkan aktivitas industri domestik yang terus membaik. Seiring meningkatnya tingkat produksi pelanggan di berbagai sektor, permintaan terhadap bahan baku yang kami distribusikan juga mengalami peningkatan sehingga memberikan dampak positif terhadap kinerja Perseroan.

Kesimpulan, emiten Indonesia menghadapi tantangan dan peluang di tengah ketidakpastian ekonomi. Beberapa emiten seperti PTBA, AKRA, dan BBCA melemah, sementara DEWA, MBMA, dan BRMS menguat. RANS melakukan IPO dengan menawarkan saham baru, namun membukukan pendapatan yang turun. HOKI menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi, sementara KKES optimistis dapat melanjutkan tren pertumbuhan pada 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *