Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 08 Juli 2026 | Pemadaman listrik bergilir telah menjadi masalah yang serius di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan Barat. Pemadaman listrik ini tidak hanya mempengaruhi kegiatan sehari-hari masyarakat, tetapi juga berdampak pada perekonomian dan keamanan nasional.
Menurut Institut untuk Reformasi Layanan Esensial (IESR), pemadaman listrik bergilir disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kekurangan pasokan listrik, kerusakan infrastruktur, dan kurangnya investasi pada sektor kelistrikan. IESR merekomendasikan pemerintah untuk meningkatkan investasi pada sektor kelistrikan, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan efisiensi penggunaan listrik.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Pontianak telah mengambil langkah untuk mengatasi pemadaman listrik bergilir dengan memperbaiki pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Siantan. Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono, berharap pasokan listrik dapat kembali normal paling lambat pada 11-12 Juli 2026.
Namun, pemadaman listrik bergilir tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga oleh faktor korupsi. Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Polri telah mengusut dugaan korupsi pengadaan batu bara untuk sejumlah PLTU periode 2018-2026. Kerugian negara ditaksir Rp5 triliun.
Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) mendukung Polri mengusut kasus korupsi batu bara hingga tuntas. CERI juga menyarankan pemerintah untuk meningkatkan diversifikasi energi, termasuk pengembangan panas bumi, untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Dalam menghadapi pemadaman listrik bergilir, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya, seperti menggunakan sumber listrik alternatif, menghemat listrik, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi energi.
Kesimpulan, pemadaman listrik bergilir di Indonesia merupakan masalah yang kompleks yang memerlukan solusi yang komprehensif. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bekerja sama untuk meningkatkan investasi pada sektor kelistrikan, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan efisiensi penggunaan listrik. Dengan demikian, diharapkan pasokan listrik dapat kembali normal dan kegiatan sehari-hari masyarakat dapat berjalan lancar.











