Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 11 Agustus 2026 | Konflik antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas, dengan Iran disebut tengah menjalankan strategi jangka panjang untuk melemahkan posisi politik Presiden Donald Trump. Menurut analis, Teheran diduga sengaja memperlambat proses negosiasi dengan Washington agar isu konflik Iran tetap membayangi pemerintahan Trump hingga hari pemungutan suara pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Strategi tersebut mulai terlihat dari sikap pemerintah Iran yang mengubah jadwal pembicaraan dengan Amerika Serikat. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebut pembahasan mengenai program nuklir baru akan memasuki tahap berikutnya dalam dua hingga empat bulan ke depan, jauh lebih lama dari rencana awal.
Sementara itu, konflik antara Iran dan Kurdi semakin memanas, dengan pasukan khusus Iran membunuh delapan pemimpin milisi Kurdi yang akan membantu CIA mensabotase Teheran. Operasi ini menjadi sorotan karena dilakukan langsung oleh pasukan darat Iran, di tengah laporan bahwa Amerika Serikat sempat mempertimbangkan memanfaatkan milisi Kurdi untuk menekan pemerintahan Teheran.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan sebagian besar persediaan global rudal jarak jauh berpresisi tinggi imbas memerangi Iran selama lima bulan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer Amerika Serikat untuk menghadapi konflik di masa depan.
Konflik antara Iran dan Kurdi juga semakin kompleks, dengan sayap bersenjata kelompok Kurdi, Kurdistan Free Life Party (PJAK), mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Iran di Marivan, Provinsi Kurdistan, Rojhelat. Ini adalah wilayah barat Iran terutama Provinsi Kurdistan mayoritas dihuni etnis Kurdi (Rojhelat) yang selama ini menentang rezim Ayatollah.
Kesimpulan dari konflik ini adalah bahwa Iran dan Amerika Serikat masih terlibat dalam konflik yang kompleks, dengan Iran menjalankan strategi jangka panjang untuk melemahkan posisi politik Trump, sementara militer Amerika Serikat menghadapi kekurangan persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi. Konflik antara Iran dan Kurdi juga semakin memanas, dengan pasukan khusus Iran membunuh pemimpin milisi Kurdi dan sayap bersenjata kelompok Kurdi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Iran.











