Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 15 Mei 2026 | Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, kembali menjadi sorotan setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat. Pada Kamis, 14 Mei 2026, sebuah kapal yang berlabuh di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA) disita dan dibawa ke arah Iran, sementara sebuah kapal kargo lainnya tenggelam setelah diserang di dekat Oman.
Menurut otoritas UEA, kapal yang disita tersebut sedang berlabuh sejauh 38 mil laut (70 kilometer) dari pelabuhan Fujairah, sebuah terminal ekspor minyak yang penting. Sementara itu, kapal kargo India yang tenggelam setelah diserang sedang dalam perjalanan dari Somalia ke Sharjah, pelabuhan lainnya di UEA.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Iran menutup akses pelayaran di kawasan tersebut bagi negara-negara yang dianggap musuh dan sekutunya, pasca serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Otoritas Iran mulai memperketat pengawasan di kawasan itu sejak bulan lalu, menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak melakukan hambatan apa pun di Selat Hormuz dan menuding AS sebagai pihak yang “mencekik” jalur pelayaran strategis tersebut melalui blokade ilegal. Araghchi juga berharap hambatan yang saat ini dialami kapal-kapal di Selat Hormuz dapat segera berakhir apabila blokade yang disebutnya ilegal dicabut oleh AS.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Presiden China Xi Jinping menawarkan bantuan untuk mengakhiri konflik dengan Iran dan memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Trump mengatakan bahwa Xi ingin melihat kesepakatan yang dapat mengatasi ketegangan di kawasan tersebut.
Gedung Putih juga menyatakan bahwa Trump dan Xi sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas. Pertemuan antara kedua pemimpin tersebut berlangsung di Beijing, dan dianggap sebagai langkah penting untuk mengurangi ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Kesepakatan antara Trump dan Xi Jinping ini diharapkan dapat membantu mengurangi ketegangan di Selat Hormuz dan memastikan kebebasan navigasi di jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, masih banyak tantangan yang harus diatasi untuk mencapai kesepakatan yang langgeng dan efektif.
Kesimpulan dari ketegangan di Selat Hormuz ini adalah bahwa kebebasan navigasi dan arus energi yang bebas sangat penting bagi stabilitas ekonomi global. Oleh karena itu, kesepakatan antara Trump dan Xi Jinping ini dapat dianggap sebagai langkah positif untuk mengurangi ketegangan di kawasan tersebut dan memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.











