Internasional

Dunia Menuju Multipolar: Tren Baru dalam Politik Global

×

Dunia Menuju Multipolar: Tren Baru dalam Politik Global

Share this article
Dunia Menuju Multipolar: Tren Baru dalam Politik Global
Dunia Menuju Multipolar: Tren Baru dalam Politik Global

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 21 Juli 2026 | Dunia sedang mengalami transformasi besar-besaran. Sistem internasional sedang berkembang di tengah-tengah munculnya multipolaritas, perubahan iklim, kemajuan teknologi yang cepat, ketimpangan yang membesar, aspirasi nasional yang bergeser, dan sistem perdagangan serta pemerintahan yang semakin terhubung. Negara-negara dan blok regional melihat perubahan ini dari perspektif yang berbeda-beda, beberapa menekankan kepentingan ekonomi, yang lain memprioritaskan pertimbangan politik, sementara banyak lainnya fokus pada keamanan nasional, pemerintahan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas regional.

China, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua dan populasi terbesar, telah mengangkat lebih dari 800 juta orang dari kemiskinan melalui program pengentasan kemiskinan yang terarah, membuatnya menjadi contoh yang patut dicontoh dalam tata pemerintahan yang efektif. PDB nominal China mencapai sekitar $20,85 triliun pada tahun ini setelah tumbuh 5 persen pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan 4,4 hingga 5 persen pada 2026.

📖 Baca juga:
Serena Williams Kembali ke Dunia Tenis dan Kontroversi di Museum HAM

China telah semakin aktif dalam kancah global dengan visi yang jelas tentang bagaimana negara-negara harus bekerja sama, menyelesaikan sengketa, dan mengatasi tantangan umum. Memahami visi ini memerlukan pemeriksaan terhadap filsafat pemerintahan yang mendasari baik administrasi domestik maupun pendekatan China terhadap urusan internasional.

China menampilkan diri sebagai pembangun perdamaian dunia yang setia, kontributor pada pembangunan global, pembela ketertiban internasional, dan penyedia barang publik global. Di tengah-tengah tantangan global saat ini, China berargumen bahwa masyarakat internasional harus membangun sistem tata pemerintahan global yang lebih adil dan setara.

Melalui Inisiatif Tata Pemerintahan Global (GGI), China mengadvokasi reformasi yang ditujukan untuk menciptakan komunitas dengan masa depan bersama untuk umat manusia. Inisiatif ini dibangun atas lima prinsip inti: (i) komitmen pada kesetaraan kedaulatan, (ii) komitmen pada hukum internasional, (iii) komitmen pada multilateralisme, (iv) komitmen pada pendekatan berbasis rakyat, dan (v) komitmen pada menghasilkan hasil yang nyata.

China telah mengulangi niatnya untuk mempertahankan prinsip-prinsip internasional yang ada sambil mengadopsi ide-ide baru, tetap terbuka dan inklusif, serta mempromosikan konsultasi yang luas, kontribusi bersama, dan manfaat yang dibagikan.

Prioritas-prioritas ini tercermin dalam inisiatif kebijakan dan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030). Rencana ini menekankan pada pengembangan bermutu tinggi, inovasi ilmiah dan teknologi, kemandirian yang lebih besar, reformasi yang lebih dalam, kemajuan budaya dan etika, peningkatan standar hidup, kemajuan Inisiatif Cina yang Indah, dan penguatan keamanan nasional.

Berbeda dengan sistem politik yang dipandu oleh siklus pemilu empat atau lima tahun, Partai Komunis China beroperasi dalam kerangka perencanaan jangka panjang. Dari modernisasi industri hingga penekanan saat ini pada kemandirian teknologi dan pengembangan hijau, Rencana Lima Tahun China menunjukkan kesinambungan strategis dan kesabaran yang banyak pemerintahan demokratis temukan sulit untuk dipertahankan.

Pendekatan komprehensif ini bertujuan untuk membangun masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan yang memprioritaskan kesejahteraan warganya sambil memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip ini, China bertujuan untuk memperkuat perannya dalam tata pemerintahan global.

📖 Baca juga:
Prabowo Subianto: Pemimpin yang Menghargai Petani dan Nelayan

Visi Presiden China Xi Jinping untuk pembangunan global, pemerintahan, keamanan, dan kerja sama tercermin dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI), yang sekarang mencakup lebih dari 150 negara peserta. Inisiatif ini berdiri pada lima prioritas utama: koordinasi kebijakan, koneksi infrastruktur, perdagangan yang tidak terhalang, integrasi keuangan, dan hubungan antar masyarakat yang lebih kuat.

Sejak 2015, China semakin memosisikan diri sebagai arsitek lembaga internasional baru daripada hanya sebagai peserta dalam lembaga yang ada. Ambisi ini tercermin dalam inisiatif seperti BRI, Inisiatif Pembangunan Global (GDI), Inisiatif Keamanan Global (GSI), Inisiatif Peradaban Global (GCI), dan Inisiatif Tata Pemerintahan Global (GGI).

Inisiatif Sabuk dan Jalan, yang diluncurkan pada 2013, tetap menjadi kerangka pengembangan internasional paling ambisius China. Saat ini, inisiatif ini mencakup lebih dari 150 negara mitra. Perdagangan China dengan negara-negara mitra BRI tumbuh 6,3 persen pada 2025, menyumbang 51,9 persen dari total perdagangan China.

Bagi banyak negara berkembang, terutama di Selatan Global, BRI telah menyediakan apa yang banyak lembaga yang dipimpin Barat tidak bisa – pembiayaan yang cepat, kondisi kebijakan yang terbatas, dan hasil infrastruktur yang terlihat. China kini menyumbang sekitar 17 persen dari perekonomian global, memberinya pengaruh besar atas tata pemerintahan ekonomi global dan pengelolaan sumber daya.

China semakin aktif dalam kancah global dengan visi yang jelas tentang bagaimana negara-negara harus bekerja sama, menyelesaikan sengketa, dan mengatasi tantangan umum. Memahami visi ini memerlukan pemeriksaan terhadap filsafat pemerintahan yang mendasari baik administrasi domestik maupun pendekatan China terhadap urusan internasional.

Dalam konteks ini, Multipolar Technology (MLPT) juga telah mengumumkan penyesuaian harga teoretis, jumlah saham hasil pemecahan, dan perubahan parameter saham MLPT dalam Jakarta Automated Trading System (JATS) yang akan dilaksanakan pada 21 Juli 2026. Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Pande Made Kusuma Ari A., menjabarkan bahwa harga saham MLPT pada akhir cumulative di pasar reguler dengan nilai nominal lama Rp100 per saham per 20 Juli 2026, tercatat pada harga Rp25.950.

Dengan nilai nominal saham setelah stock split sebesar Rp4 per saham, maka harga teoretis MLPT menjadi Rp1.038. Adapun, rasio pemecahan harga saham MLPT adalah 1:25. Dengan nilai nominal lama Rp100 per saham, dan nominal baru Rp4 per saham.

📖 Baca juga:
IHSG Anjlok, Saham JECX Melonjak 25 Persen

"Harga teoretis saham MLPT yang dicantumkan di JATS untuk pasar reguler dan pasar negosiasi pada 21 Juli 2026 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp1.040. Penyesuaian harga dasar untuk perhitungan Indeks Harga Saham (IHSG) Individual saham MLPT sebesar Rp19.237," jelas Pande di keterbukaan informasi BEI pada Senin (20/7/2026).

Perhitungan harga dasar baru itu menggunakan harga teoretis Rp1.040 dan dibagi harga terakhir MLPT saat akhir cumulative di pasar reguler pada 20 Juli 2026, yaitu Rp25.950. Kemudian dikali 480. Sehingga hasilnya menjadi Rp19.237.

Setelah stock split, maka jumlah saham tercatat MLPT di BEI menjadi 46.875.000.000 saham. Jumlah saham sebelum stock split sebanyak 1.875.000.000. Sehingga terjadi jumlah perubahan sebanyak 45 miliar saham.

Jelang peresmian stock split, saham MLPT turun 11,21% dari Rp29.225 ke Rp25.950, melansir data perdagangan BEI. Nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp48,6 triliun, dengan volume transaksi sebanyak 188.400 saham. Valuasi transaksinya sebesar Rp5 miliar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.162 kali.

Saham emiten teknologi ini cenderung diminati investor domestik. Di seluruh pasar, investor domestik mencatatkan pembelian sebesar Rp4,96 miliar. Sedangkan penjualannya sebesar Rp4,84 miliar. Sementara investor asing mencatatkan pembelian sebesar Rp47.342.500 dan penjualan sebesar Rp169.407.500.

Kesimpulan: Dunia saat ini sedang bergerak menuju multipolaritas, dengan China sebagai salah satu aktor utama. Negara ini telah mengembangkan visi yang jelas tentang bagaimana negara-negara harus bekerja sama dan mengatasi tantangan umum. Dalam konteks ini, Multipolar Technology (MLPT) juga telah mengumumkan penyesuaian harga teoretis dan jumlah saham hasil pemecahan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar dan China merupakan salah satu negara yang memainkan peran penting dalam perubahan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *