Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 15 April 2026 | Pada Senin 13 April 2026 Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan perintah militer untuk memblokade Selat Hormuz setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan berakhir buntu. Operasi blokade ini ditujukan untuk menekan Tehran agar menyerahkan syarat-syarat AS dalam mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama. Namun, dalam 24 jam pertama pelaksanaan, blokade tampak tidak efektif; setidaknya tujuh kapal berhasil meloloskan diri, termasuk empat kapal tanker yang terkait dengan Iran.
Salah satu kapal yang berhasil melewati selat adalah kapal milik China yang sebelumnya dikenai sanksi AS pada tahun 2023 karena mengangkut minyak Iran. Kapal tersebut terlihat di sisi lain Selat Hormuz pada Selasa 14 April 2026. Kapal tanker lain, Rich Starry, menjadi yang pertama berhasil menembus blokade dan keluar dari Teluk, menurut data dari LSEG dan Kpler. Rich Starry, yang mengibarkan bendera palsu Malawi, sempat berbalik arah setelah melewati titik sempit Selat Hormuz, menandakan bahwa taktik mengelabui radar dan sinyal masih dipakai oleh armada bayangan yang mengangkut minyak ilegal.
Andrea Ghiselli, asisten profesor hubungan internasional Universitas Fudan Beijing, menjelaskan dalam sebuah analisis untuk Lowy Institute bahwa tujuan akhir blokade belum sepenuhnya jelas. “Salah satu kemungkinan adalah menekan negara-negara pengimpor minyak Iran, terutama China, agar mendesak Tehran menerima syarat-syarat Amerika,” ujarnya. Namun, fakta bahwa kapal berflag China berhasil melaju tanpa hambatan menimbulkan pertanyaan atas efektivitas taktik tersebut.
Para analis militer menekankan besarnya sumber daya yang dikerahkan oleh AS: lebih dari 10.000 personel, termasuk marinir, personel angkatan udara, serta lebih dari selusin kapal perang. Di antaranya kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal amfibi USS Tripoli, serta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali. Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan blokade bersifat selektif, hanya menyasar kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran, tidak termasuk pelayaran umum yang melintas lewat selat.
Di sisi ekonomi, blokade menimbulkan kegelisahan di pasar energi global. Scott Modell, CEO Rapidan Energy Group, memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat memperparah guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, dengan premi asuransi pelayaran melonjak tajam. “Trump tampaknya bersedia menanggung kenaikan harga bensin di atas 4 dolar AS demi menambah tekanan pada Iran, mengandalkan kesabaran konsumen Amerika,” katanya.
- 7 kapal lolos dalam 24 jam pertama, termasuk 4 tanker Iran.
- Rich Starry, tanker China yang dikenai sanksi, berhasil menembus blokade lalu berbalik arah.
- AS mengerahkan lebih dari 10.000 personel dan selusin kapal perang.
- Premi asuransi pelayaran meningkat, mengancam stabilitas pasar minyak.
- Negara-negara seperti China, Inggris, dan Prancis mengkritik langkah blokade sebagai tindakan berbahaya.
Reaksi internasional pun beragam. Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengecam blokade sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang dapat memperburuk konflik. Inggris dan Prancis dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi pertahanan multinasional untuk menjamin kelancaran pelayaran. Sementara Iran menegaskan kedaulatan atas Selat Hormuz dan menyatakan bahwa kapal non-militer tetap dapat melintas asalkan mematuhi regulasi Iran.
Di tingkat regional, video rekaman yang beredar pada 14 April menunjukkan sejumlah kapal tanker minyak terhenti dan berlabuh di wilayah Iran. Hal ini menandakan bahwa blokade memang menimbulkan tekanan pada kapal yang berusaha masuk atau keluar pelabuhan Iran, meskipun tidak menghentikan semua lalu lintas. Sejumlah kapal dagang dilaporkan mematuhi perintah AS untuk berbalik arah dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.
Dampak ekonomi tidak hanya dirasakan di pasar energi. Gangguan pada jalur pelayaran ini mengancam distribusi pupuk, gandum, dan kargo curah lainnya, yang dapat meningkatkan inflasi dan mengancam ketahanan pangan di banyak negara. Lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa penurunan pasokan bahan pokok dapat memperparah situasi krisis ekonomi di negara-negara berkembang.
Secara keseluruhan, meskipun tujuan politik AS untuk menekan Iran melalui blokade maritim belum tercapai, langkah tersebut telah menimbulkan konsekuensi luas, baik bagi keamanan regional maupun stabilitas pasar global. Dengan ketegangan yang masih tinggi, kemungkinan terjadi eskalasi militer atau diplomasi lanjutan masih terbuka, sementara dunia menantikan perkembangan selanjutnya di Selat Hormuz.











