BERITA

Harga Minyak Dunia Turun Tipis Setelah Rencana Trump Keluarkan Kapal dari Hormuz

×

Harga Minyak Dunia Turun Tipis Setelah Rencana Trump Keluarkan Kapal dari Hormuz

Share this article
Harga Minyak Dunia Turun Tipis Setelah Rencana Trump Keluarkan Kapal dari Hormuz
Harga Minyak Dunia Turun Tipis Setelah Rencana Trump Keluarkan Kapal dari Hormuz

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 07 Mei 2026 | Harga minyak dunia turun lebih dari 6 persen pada Rabu karena meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menangguhkan operasi militer di Selat Hormuz setelah Iran menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut.

Kedua negara sedang merundingkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik guna menjaga stabilitas pasokan energi global yang sempat terganggu. Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 6 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah muncul harapan baru terkait kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

📖 Baca juga:
Harga BBM Melonjak di Jabodetabek: Pertamax Turbo Capai Rp19.400 per Liter

Penurunan dipicu keputusan Presiden Donald Trump yang menghentikan sementara operasi militer di Selat Hormuz setelah Teheran menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Pasar energi global mulai merespons positif meredanya ketegangan geopolitik yang sebelumnya mengancam pasokan minyak dunia.

Harga Brent dan WTI Merosot Tajam Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 6,8 persen menjadi 102,45 dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh level di bawah 100 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 6,4 persen ke level 95,69 dolar AS per barel.

Penurunan ini berbanding terbalik dengan tren beberapa pekan terakhir saat harga minyak melonjak akibat konflik dan blokade di Timur Tengah. Laporan Axios menyebut Gedung Putih tengah mendekati kesepakatan dengan Teheran melalui nota kesepahaman satu halaman guna menghentikan konflik bersenjata.

Dokumen tersebut disebut memuat kerangka kerja awal, termasuk kemungkinan moratorium pengayaan nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sebagian sanksi ekonomi AS. Trump melalui media sosialnya menyatakan operasi “Project Freedom” ditangguhkan atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain.

“Dengan asumsi Iran setuju memberikan apa yang telah disepakati, Epic Fury akan berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali untuk semua,” tulis Trump. Meski begitu, Trump tetap memperingatkan bahwa operasi militer bisa dilanjutkan jika Iran menolak poin-poin kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa mereka sedang mempelajari proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat pada Rabu. Proposal ini disebut-sebut bertujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata secara formal, meskipun poin-poin krusial seperti penghentian program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz dilaporkan belum mencapai titik temu yang permanen.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, melalui kantor berita ISNA, menyatakan bahwa Teheran akan segera menyampaikan respons resmi mereka. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan optimisme tinggi saat berbicara di Oval Office.

“Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir,” ujar Trump. Optimisme Trump pada Rabu petang merupakan perubahan sikap yang cukup drastis. Sebelumnya, melalui unggahan di Truth Social, Trump sempat mengancam akan memulai kembali kampanye pengeboman di Iran jika Teheran menolak tawaran tersebut.

📖 Baca juga:
Prabowo Panggil Dudung, Tekankan Larangan Pesawat Militer AS Lewat Udara RI

Ia bahkan menyebut asumsi bahwa Iran akan setuju adalah “asumsi yang besar.” Sejak perang meletus pada 28 Februari lalu, kedua negara terjebak dalam konflik yang melumpuhkan jalur distribusi energi dunia. Fokus utama negosiasi saat ini adalah penghentian konflik, pembukaan Selat Hormuz, serta pembahasan sanksi dan program nuklir Iran.

Kabar mengenai potensi gencatan senjata ini langsung memberikan guncangan pada pasar komoditas global. Harga minyak mentah dunia sempat terjun bebas ke level terendah dalam dua pekan terakhir. Dalam kondisi normal, sekitar 120 kapal melintas setiap hari melalui jalur ini, yang menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Namun dalam situasi saat ini, keputusan untuk mengeluarkan kapal justru menjadi sangat berisiko. Selain ancaman serangan, kerusakan pada kapal bernilai jutaan dolar dapat menimbulkan kerugian besar secara finansial maupun logistik. Di sisi lain, perusahaan asuransi juga tidak selalu menanggung risiko kapal di wilayah konflik karena klausul perang dalam kontrak mereka.

Dengan kata lain, memindahkan kapal tanpa jaminan perlindungan asuransi yang memadai menjadi langkah yang sangat mahal dan berbahaya. Pemerintah Amerika Serikat disebut telah menghubungi sejumlah perusahaan pelayaran untuk menawarkan skema Project Freedom, kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Namun hanya sedikit yang bersedia mengikutinya.

Raksasa pelayaran Denmark, Maersk, mengonfirmasi salah satu kapalnya termasuk dalam dua kapal yang berhasil dikawal keluar oleh militer AS pada Senin. Kapal tersebut sebelumnya terjebak di Teluk Persia sejak konflik pecah pada Februari. Pengumuman untuk menunda operasi militer di Selat Hormuz tersebut diungkap Trump melalui media sosialnya pada Selasa.

Trump menyebut bahwa penundaan ini tidak akan memengaruhi blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang ia sebut akan tetap berlaku. Dalam pernyataannya itu, Trump menyebut bahwa penundaan dilakukan demi memberi ruang bagi upaya penyelesaian kesepakatan penghentian perang antara AS dan Iran.

Menurutnya, upaya diplomatik tersebut telah menunjukkan “kemajuan besar” dan kini telah berada di jalur menuju “kesepakatan lengkap dan final”. Akan tetapi, seturut The Guardian, Iran sejauh ini belum memberikan keterangan resmi terkait pernyataan Trump, baik mengenai penundaan operasi di Selat Hormuz maupun klaim kemajuan upaya diplomatik.

Terkait penundaan operasi AS di Selat Hormuz, Trump menyebut bahwa hal ini ia putuskan setelah menerima “permintaan Pakistan dan negara-negara lain”. Sebelumnya, operasi ini dinyatakan efektif berlaku pada Senin, sehari sebelum ditunda.

📖 Baca juga:
Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz: Ancaman Penutupan, Blokade AS, dan Dampak Harga Minyak Global

Pengumuman penundaan operasi militer itu juga diungkap Trump tak lama setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim keberhasilan operasi. Sebelum pengumuman Trump, kedua menteri tersebut baru saja membuat pernyataan publik tentang keberhasilan militer AS membuka Hormuz.

“Kita tahu Iran malu dengan fakta ini. Mereka mengatakan mereka mengendalikan selat itu. Mereka tidak,” kata Hegseth dalam konferensi pers pada Selasa. Sementara Rubio menyebut bahwa AS sedang berupaya membuka jalur perairan Hormuz pada Selasa, menyebut bahwa hal itu dilakukan AS sebagai “bantuan kepada dunia” sembari menyebut “hanya kami yang mampu melakukannya”.

Tak sampai sehari pernyataan itu dilontarkan Rubio dan Hegseth, Trump mengumumkan penundaan operasi yang baru saja dibanggakan dua menterinya. AS Usulkan Resolusi PBB untuk Tekan Iran Dalam keterangannya pada Selasa, Marco Rubio menyebut bahwa pihaknya telah mengusulkan draf resolusi PBB berisi tuntutan penghentian serangan dan pemasangan ranjau di Selat Hormuz kepada Iran.

Draf resolusi itu disebut tengah dibahas anggota Dewan Keamanan PBB. Menukil The Straits Times, draf tersebut dibuat AS bersama Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Jika disahkan, penolakan Iran atas resolusi itu dapat menyebabkan sanksi terhadap Iran dan berpotensi mengizinkan penggunaan kekuatan militer negara anggota PBB.

Reuters melaporkan bahwa draf tersebut berisi pernyataan mengutuk dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran dan “tindakan dan ancaman berkelanjutan yang bertujuan untuk menutup, menghalangi, dan membatasi” kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz. Draf tersebut juga berisi tuntutan agar Iran segera menghentikan serangan, mengungkap lokasi ranjau apa pun, dan tidak menghalangi operasi pembersihan.

Kesimpulan: Harga minyak dunia turun tipis setelah rencana Trump keluarkan kapal dari Hormuz. Rencana ini merupakan upaya untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Penurunan harga minyak ini diprediksi akan berdampak pada pasar energi global dan mempengaruhi stabilitas pasokan minyak dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *