Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 22 April 2026 | Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) mengumumkan keberhasilan operasi penangkapan ikan sapu-sapu pada Selasa, 21 April 2026, dengan total tangkapan mencapai 5,3 ton. Operasi ini merupakan lanjutan dari serangkaian upaya penanganan spesies invasif yang telah menimbulkan kepedihan bagi ekosistem perairan setempat.
Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa prosedur penguburan ikan sapu-sapu kini telah disesuaikan dengan rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Agar tidak menimbulkan kekeliruan ke depannya, kami melaksanakan proses ini sesuai saran MUI. Hari ini sudah berjalan dengan baik,” ujarnya dalam konferensi pers di Balai Kota. Menurut Anwar, seluruh ikan yang akan dikubur telah dipastikan dalam keadaan mati, sehingga tidak melanggar prinsip kesejahteraan hewan yang ditekankan oleh MUI.
Operasi penangkapan kali ini difokuskan di Pintu Air Setu Babakan, Jagakarsa, salah satu titik masuk utama aliran air yang menjadi jalur migrasi ikan sapu-sapu. Tim gabungan yang terdiri dari petugas Pemkot, TNI, serta relawan masyarakat berjumlah sekitar 60 orang. Mereka menggunakan jaring besar serta perahu penangkap khusus untuk mengumpulkan ikan secara massal tanpa menimbulkan kerusakan pada habitat alami.
Setelah penangkapan, ikan-ikan tersebut dibawa ke area penanganan khusus di mana proses pematian dilakukan secara humanis. Selanjutnya, bangkai ikan dikubur di lahan yang telah ditentukan dan dilengkapi dengan lapisan tanah yang cukup tebal untuk mencegah kontaminasi air. Metode ini tidak hanya menghindari praktik penguburan hidup-hidup yang dikritik sebelumnya, tetapi juga memanfaatkan sisa bangkai sebagai bahan kompos organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebelumnya telah menginstruksikan langkah-langkah pengendalian ini sebagai bagian dari program perlindungan kualitas lingkungan dan air. “Keberadaan ikan sapu-sapu mengancam populasi ikan lokal yang menjadi sumber protein utama masyarakat. Telur mereka memakan telur ikan lokal, sehingga menurunkan hasil tangkapan nelayan,” jelas Anung. Ia menambahkan bahwa operasi akan dilakukan dua kali dalam seminggu dengan fokus utama pada wilayah hulu, untuk menekan penyebaran populasi hingga ke wilayah hilir.
Respons masyarakat pun beragam. Sebagian warga, seperti Yanuar Hadi (47), menyambut positif kebijakan ini. “Kami mendukung kegiatan ini karena pengendalian ikan sapu-sapu lebih baik dibandingkan harus mengorbankan ikan lokal,” ujarnya. Di sisi lain, beberapa kelompok pecinta hewan tetap mengingatkan pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap standar kesejahteraan hewan.
Selain penguburan, pihak Pemprov DKI juga sedang mengevaluasi alternatif pengolahan ikan sapu-sapu yang lebih berkelanjutan. Salah satu usulan yang muncul adalah pemanfaatan ikan menjadi arang seperti yang diterapkan di Brasil, atau memprosesnya menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi. Rano Karno, Wakil Gubernur DKI, menegaskan bahwa evaluasi ini akan melibatkan lembaga penelitian dan dinas terkait guna memastikan tidak menimbulkan risiko kesehatan, mengingat kandungan logam berat pada ikan sapu-sapu dapat melebihi ambang batas yang ditetapkan.
Secara keseluruhan, langkah Pemkot Jaksel dalam menyesuaikan prosedur penguburan ikan sapu-sapu dengan saran MUI mencerminkan upaya pemerintah daerah untuk menyeimbangkan antara efektivitas pengendalian spesies invasif dan kepatuhan pada nilai-nilai etika. Dengan target penangkapan intensif, harapan besar ditempatkan pada perbaikan kualitas air, pemulihan populasi ikan lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.











