Hiburan

Lee Cronin’s “The Mummy”: Reboot Horor Keluarga yang Mengguncang Bioskop Indonesia

×

Lee Cronin’s “The Mummy”: Reboot Horor Keluarga yang Mengguncang Bioskop Indonesia

Share this article
Lee Cronin's "The Mummy": Reboot Horor Keluarga yang Mengguncang Bioskop Indonesia
Lee Cronin's "The Mummy": Reboot Horor Keluarga yang Mengguncang Bioskop Indonesia

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 17 April 2026 | Lee Cronin kembali menegaskan eksistensi dirinya di dunia horor modern lewat The Mummy yang resmi diputar di seluruh bioskop Indonesia sejak pertengahan April 2026. Berbeda jauh dari adaptasi klasik yang menonjolkan petualangan arkeologik, versi Cronin menapaki jalur gelap, menekankan atmosfer menakutkan serta konflik psikologis dalam lingkup keluarga. Film ini menjadi sorotan utama karena berhasil menghidupkan kembali monster mumi dengan sentuhan horror kontemporer yang intens.

Plot utama berpusat pada pasangan jurnalis, Charlie Cannon (Jack Reynor) dan Larissa Cannon (Laia Costa), yang hidup bahagia bersama dua anak mereka, Sebastian dan Katie, di Kairo. Tragedi melanda ketika Katie menghilang secara misterius di padang pasir Mesir. Delapan tahun kemudian, keluarga tersebut mencoba merajut kembali kehidupan normal di New Mexico, namun sebuah telepon dari Mesir mengabarkan penemuan Katie di dalam peti mumi berusia ribuan tahun. Kejutan terbesar: Katie masih hidup, meski tampak terinfeksi oleh kekuatan gelap yang tak terduga.

📖 Baca juga:
Spekulasi ‘Drop Dead’ Olivia Rodrigo: Apakah Louis Partridge Jadi Inspirasi?

Lee Cronin, yang sebelumnya mencuri perhatian lewat Evil Dead Rise, membawa gaya visualnya yang khas—gore yang menohok, humor gelap ala Sam Raimi, serta penggunaan teknik split‑diopter yang menciptakan gambar aneh namun mendukung ketegangan. Dari adegan kejar‑kejaran di dalam dinding hingga potongan kuku yang membuat bulu kuduk merinding, semua elemen itu menyatu menjadi satu rangkaian horor yang tidak hanya mengandalkan jump‑scare, melainkan juga menumbuhkan rasa tidak nyaman secara bertahap.

Berbeda dengan adaptasi sebelumnya yang menonjolkan aksi petualangan, Cronin memilih menyoroti:

  • Atmosfer Kegelapan: Penekanan pada pencahayaan redup, suara langkah kaki yang diproses secara detail, serta bisikan yang menambah sensasi takut.
  • Konflik Keluarga: Reaksi emosional Charlie dan Larissa menghadapi perubahan drastis Katie, serta dinamika antara saudara Sebastian dan adik kecil Maud.
  • Elemen Horor Psikologis: Penampilan roh jahat yang merasuki tubuh Katie, ritual mumifikasi mengerikan, serta pengorbanan ayah yang memindahkan kutukan ke dirinya.

Film ini tidak lepas dari kritik. Beberapa penonton menganggap ada celah naratif, terutama mengenai dua anak yang dikatakan kerasukan namun tidak dijelaskan secara memuaskan. Namun, dibandingkan dengan Evil Dead Rise yang plotnya lebih terstruktur, The Mummy lebih menonjolkan pengalaman sensori daripada logika cerita.

📖 Baca juga:
4 Duo Aktor Korea yang Langganan Main Bareng, Chemistry Juara!

Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Cronin menegaskan bahwa film ini “adalah film mumi yang benar‑benar mengerikan” dan menambah bahwa fokusnya pada “keluarga kecil” mengalihkan perhatian dari politik atau hierarki firaun ke trauma pribadi. Ia menambahkan bahwa penemuan Katie dalam sarcophagus kuno sekaligus menjadi sarana untuk mengungkapkan “entitas jahat kuno” yang menggunakan tubuh anak sebagai wadah, memperkuat tema horor domestik yang claustrophobic.

Secara teknis, sinematografi Dave Garbett memberikan visual yang “Cronin‑like” dengan penggunaan split‑diopter yang membuat frame tampak terbelah, menambah rasa aneh pada setiap adegan. Desain suara juga mendapat pujian karena setiap langkah, teriakan, dan bisikan disusun dengan presisi, menciptakan lapisan audio yang menahan penonton di tepi kursi.

Film ini menjadi bagian dari strategi industri yang ingin menghidupkan kembali IP klasik melalui pendekatan modern. Studio memilih menyesuaikan tone cerita agar lebih selaras dengan tren horor yang mengutamakan atmosfer dan karakter, bukan sekadar aksi spektakuler. Reboot ini berhasil menarik perhatian penonton baru sekaligus memancing diskusi di kalangan kritikus film, mengingat pergeseran genre yang cukup ekstrem.

📖 Baca juga:
Film Salt: Drama Pengkhianatan dan Kejar-kejaran Evelyn Salt di Bioskop Trans TV Malam Ini

Penutupnya, Lee Cronin’s The Mummy menawarkan pengalaman horor yang intens, menggabungkan elemen klasik monster mumi dengan sentuhan modern yang mengutamakan ketegangan psikologis dan konflik keluarga. Bagi penikmat horor yang mencari sensasi berbeda dari franchise klasik, film ini layak ditonton di layar lebar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *