Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 06 Mei 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi tiga korban meninggal akibat wabah hantavirus yang terjadi di atas kapal pesiar ekspedisi MV Hondius, kapal milik Oceanwide Expeditions yang sedang melintasi Samudra Atlantik menuju Tanjung Verde, Afrika Barat. Kasus ini menimbulkan keprihatinan global karena menunjukkan potensi penyebaran virus melalui kontak erat di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.
Menurut laporan resmi WHO pada 4 Mei 2026, total tujuh kasus telah teridentifikasi, termasuk dua kasus terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek. Dari ketujuh kasus, tiga di antaranya berujung pada kematian, satu dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya melaporkan gejala ringan. Penumpang yang meninggal terdiri dari pasangan suami istri warga Belanda dan seorang warga Jerman.
Berikut kronologi singkat yang dirangkum dari data WHO dan laporan media:
- 2 Mei 2026: Kasus pertama muncul ketika seorang penumpang wanita Belanda menunjukkan gejala demam, kelelahan, dan nyeri otot. Hasil PCR di Afrika Selatan kemudian mengonfirmasi infeksi hantavirus.
- 4 Mei 2026: WHO menyatakan ada kemungkinan penularan antar manusia pada kapal, terutama melalui kontak sangat dekat antar penumpang dan awak.
- 5 Mei 2026: Dua awak kapal, satu warga Inggris dan satu warga Belanda, menunjukkan gejala pernapasan akut dan dijadwalkan dievakuasi ke Belanda.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang biasanya menular dari hewan pengerat, seperti tikus, melalui partikel urine, air liur, atau kotoran yang terbang di udara. Penularan antar manusia sangat jarang, namun WHO menilai risiko meningkat pada ruang tertutup dengan ventilasi terbatas.
Gejala awal hantavirus mirip flu, meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan muntah. Dalam beberapa hari, kondisi dapat berkembang menjadi sindrom paru-paru (Hantavirus Pulmonary Syndrome) atau demam berdarah dengan gagal ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome). Tingkat mortalitas pada Sindrom Paru-paru dapat mencapai 20–40 %.
Kapal MV Hondius berukuran 147 meter, menampung hingga 170 penumpang, dan biasanya berlayar ke wilayah Antartika serta Arktik. Pada pelayaran kali ini, kapal berangkat dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026, melewati beberapa pulau di Samudra Atlantik Selatan sebelum tiba di lepas pantai Praia, Cape Verde pada awal Mei. Selama perjalanan, tidak ada laporan resmi tentang keberadaan tikus di atas kapal, namun penyelidikan masih berlangsung untuk menemukan sumber kontaminasi.
Otoritas setempat telah memberlakukan karantina ketat. Seluruh 149 penumpang yang masih berada di kapal diminta tetap berada di dalam kabin. Dua awak kapal yang menunjukkan gejala telah dievakuasi menggunakan pesawat ke Belanda, sementara penumpang yang terpapar juga dipindahkan ke fasilitas medis di Afrika Selatan untuk perawatan intensif.
Berikut data singkat mengenai kasus yang terkonfirmasi:
| Kasus | Negara Asal | Status | Tanggal Konfirmasi |
|---|---|---|---|
| 1 | Belanda (perempuan) | Terkonfirmasi | 2 Mei 2026 |
| 2 | Inggris (pria, 69 th) | Terkonfirmasi | 4 Mei 2026 |
| 3 | Jerman | Suspek | 5 Mei 2026 |
WHO menekankan bahwa meskipun risiko penyebaran ke masyarakat luas masih rendah, tindakan pencegahan harus diperketat. Tidak ada rekomendasi pembatasan perjalanan internasional saat ini, namun kapal tetap berada di perairan Cape Verde dan tidak diizinkan berlabuh hingga penyelidikan selesai.
Penanggulangan hantavirus pada umumnya bersifat suportif, meliputi pemberian cairan, terapi oksigen, dan ventilasi mekanis bila diperlukan. Sampai saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk hantavirus, sehingga pencegahan menjadi kunci utama, terutama dengan menghindari paparan hewan pengerat dan membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Kasus serupa pernah terjadi pada Februari 2025, ketika istri aktor terkenal Gene Hackman meninggal karena infeksi hantavirus setelah ditemukan sarang tikus di rumahnya. Insiden tersebut meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya virus ini.
Dengan tiga nyawa yang telah hilang dan potensi penyebaran lebih luas, WHO dan otoritas kesehatan nasional terus memantau situasi. Penelitian lanjutan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi genotipe virus yang menular, serta menilai kemungkinan penularan antar manusia di lingkungan kapal pesiar.
Wabah ini menjadi pengingat penting bagi industri pariwisata laut untuk meningkatkan standar kebersihan, inspeksi hewan pengerat, dan prosedur karantina pada kapal yang menyeberangi wilayah dengan risiko zoonosis tinggi.











