Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 04 Mei 2026 | Jakarta, 4 Mei 2026 – Aktor terkenal Daehoon mengumumkan melalui unggahan Instagram pada hari Jumat (1/5/2026) bahwa ia akan membatasi akses mantan istrinya, Jule, dalam rangka co‑parenting. Pernyataan tersebut menegaskan kembali hak asuh penuh yang telah diputuskan pengadilan, sekaligus menyoroti kebijakan baru yang diambil demi melindungi pertumbuhan fisik dan mental anak-anak mereka. Daehoon menambahkan bahwa pembatasan ini tidak bersifat emosional, melainkan berlandaskan kepentingan terbaik sang anak.
Keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap menempatkan hak asuh utama pada Daehoon. Dalam konteks pasca perceraian, kejelasan legal menjadi fondasi utama bagi setiap orang tua untuk mengambil keputusan strategis terkait pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan anak. Dengan status tersebut, Daehoon mengakui hak Jule untuk tetap terlibat secara emosional, namun menegaskan bahwa interaksi harus berada dalam koridor yang tidak mengganggu kesejahteraan anak.
Menurut Daehoon, akses Jule akan tetap diperbolehkan asalkan tidak mengganggu aktivitas harian, perkembangan jiwa, pertumbuhan jasmani, kecerdasan intelektual, maupun pendidikan agama anak. Ia menuliskan, “Hal tersebut saya lakukan selama tidak mengganggu aktivitas anak‑anak, perkembangan jiwa, pertumbuhan jasmani dan rohani, kecerdasan intelektual, serta pendidikan agama mereka, sebagaimana juga menjadi perhatian dalam putusan yang saya miliki.” Kebijakan ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara hak ibu kandung dan tanggung jawab utama sang ayah sebagai pemegang hak asuh.
Daehoon menyebut beberapa insiden yang memicu keputusan pembatasan tersebut. Ia menyoroti penggunaan produk kosmetik dewasa pada anak, pertemuan anak dengan pihak yang terlibat dalam konflik rumah tangga sebelumnya, serta penyalahgunaan anak sebagai bahan lecehan terhadap dirinya. Contoh konkrit yang diungkap meliputi:
- Penggunaan krim atau produk perawatan kulit yang ditujukan untuk dewasa pada kulit sensitif anak.
- Pertemuan anak dengan mantan pasangan yang masih terlibat dalam perselisihan pribadi.
- Penggunaan nama atau gambar anak dalam sengketa pribadi yang dapat merusak martabat ayah.
Insiden‑insiden ini dianggap melewati batas yang dapat diterima dalam konteks co‑parenting yang sehat.
Daehoon menegaskan bahwa pembatasan akses bukanlah bentuk balas dendam, melainkan upaya preventif untuk menghindari dampak negatif pada kesehatan mental dan pertumbuhan anak. Ia menambahkan bahwa peran ibu kandung tetap penting, namun interaksi harus berada dalam batas yang aman dan tidak merugikan. “Saya tetap menghargai peran Jule sebagai ibu, namun prioritas utama saya adalah melindungi anak‑anak dari potensi bahaya psikologis,” ujar Daehoon.
Pengumuman ini mendapat sorotan luas di media sosial, dimana netizen menilai langkah Daehoon sebagai contoh tanggung jawab orang tua yang menempatkan kepentingan anak di atas konflik pribadi. Pakar keluarga menyarankan bahwa komunikasi yang jelas, disertai dukungan profesional, dapat membantu menyelesaikan perselisihan tanpa melibatkan anak. Kesimpulannya, kebijakan pembatasan akses yang diterapkan Daehoon menegaskan pentingnya batasan yang tegas dalam praktik co‑parenting, sekaligus menyoroti perlunya pengawasan berkelanjutan demi kesehatan fisik dan mental generasi mendatang.











