Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Mei 2026 | Tim pengajar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama rekan-rekan dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menggelar pelatihan intensif bagi puluhan guru di Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara yang berlangsung di Kupang ini menekankan penggunaan alat peraga berbahan daur ulang untuk mengajarkan konsep astronomi secara praktis dan terjangkau.
Instruktur utama, Dr. Hakim Luthfi Malasan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan adalah mengubah persepsi bahwa astronomi adalah ilmu yang mahal dan sulit diakses. Dengan bantuan ITERA, guru-guru diberikan contoh pembuatan teleskop sederhana, model planet, serta sensor cahaya yang seluruhnya dapat dibuat dari bahan bekas seperti botol plastik, karton, dan kaleng.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif global Network for Astronomy School Education (NASE) yang berada di bawah naungan International Astronomical Union (IAU). Selain ITB dan ITERA, pelatihan juga melibatkan praktisi dari Waluku Project, sebuah organisasi yang fokus pada pelestarian budaya dan lingkungan di daerah pesisir NTT. Kolaborasi lintas lembaga ini memperkaya perspektif teknis dan kultural, sehingga peserta tidak hanya belajar tentang teknik observasi, tetapi juga bagaimana mengaitkannya dengan kearifan lokal.
Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Malkisedek Taneo, menambahkan bahwa penguatan kapasitas guru merupakan langkah strategis untuk memaksimalkan manfaat Observatorium Nasional Timau yang baru dibuka di Kabupaten Kupang. Observatorium tersebut diharapkan menjadi “laboratorium alam” bagi siswa, sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis pengamatan langit (astrotourism). Dengan guru yang terlatih, pengetahuan tentang fenomena langit dapat tersebar lebih luas ke komunitas lokal.
Selama tiga hari pelatihan, para peserta menjalani sesi teori, demonstrasi pembuatan alat, serta praktik observasi langsung di lapangan. Salah satu kegiatan menonjol adalah pembuatan model “eclipse” menggunakan kardus berlapis aluminium yang dapat diputar untuk meniru gerakan bayangan bulan. Aktivitas ini tidak hanya mengajarkan konsep gerhana, tetapi juga mengasah kreativitas peserta dalam memanfaatkan sumber daya yang ada.
Berikut beberapa poin kunci yang disampaikan selama pelatihan:
- Penggunaan bahan daur ulang dapat menurunkan biaya produksi alat peraga hingga 80 persen.
- Guru diharapkan menjadi “pelatih bagi pelatih”, sehingga ilmu astronomi dapat menyebar ke sekolah-sekolah terpencil di seluruh NTT.
- Kolaborasi dengan ITERA memperkenalkan teknologi sensor sederhana yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sains.
- Program NASE menyediakan sertifikasi internasional bagi guru yang berhasil menyelesaikan modul pelatihan.
Para peserta juga diajak untuk mengamati langit malam menggunakan teleskop buatan sendiri. Hasil observasi mencakup pencarian bintang variabel, identifikasi gugus terbuka, dan pencatatan posisi planet-planet yang terlihat. Data tersebut kemudian diunggah ke platform global NASE, memungkinkan kolaborasi lintas negara dalam pemantauan fenomena astronomi.
Kehadiran ITERA dalam program ini menegaskan komitmen institusi tersebut terhadap penyebaran ilmu pengetahuan di wilayah Indonesia yang masih terpinggirkan. ITERA, yang dikenal dengan keunggulan di bidang teknik dan teknologi, menyediakan modul praktis tentang sensor cahaya dan perangkat lunak analisis data yang dapat dijalankan di laptop standar. Hal ini memperluas cakupan pelatihan dari sekadar observasi visual menjadi analisis kuantitatif.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah Lampung, termasuk rencana perluasan wilayah Bandar Lampung yang kini memasuki tahap studi kelayakan, sinergi antara lembaga pendidikan tinggi, pemerintah, dan organisasi non‑profit semakin kuat. Meskipun fokus utama pelatihan berada di NTT, dampaknya diharapkan meluas ke provinsi-provinsi lain, termasuk Lampung, yang tengah mengembangkan infrastruktur pendidikan sains.
Secara keseluruhan, pelatihan ini menandai langkah signifikan dalam upaya meningkatkan literasi sains di Indonesia timur. Melalui kolaborasi antara ITB, ITERA, Undana, dan berbagai mitra, guru-guru kini memiliki alat dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menginspirasi generasi muda dalam mengeksplorasi alam semesta.









