Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 29 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir pada penutupan perdagangan Selasa, 28 April 2026, dengan penurunan 0,48% menjadi 7.072,39 poin. Penurunan ini menandai hari berwarna merah bagi pasar modal Indonesia, di mana 350 saham mengalami pelemahan sementara hanya 339 saham yang menguat.
Pergerakan indeks hari itu terjadi di antara level tertinggi 7.151,50 dan level terendah 7.032,98. Volume perdagangan mencapai 31,9 miliar saham dengan nilai transaksi harian mencapai Rp 17,5 triliun. Dolar AS diperdagangkan pada kisaran 17.236 per rupiah, menambah tekanan pada aliran modal asing.
Sektor-sektor utama menunjukkan pola yang beragam. Sektor industri menjadi satu-satunya yang naik tipis sebesar 0,10%, diikuti sektor keuangan (+0,92%) dan properti (+0,27%). Sebaliknya, sektor consumer non‑siklikal tercatat penurunan terbesar sebesar 1,61%, sementara sektor basic naik 1,48%. Sektor consumer siklikal, kesehatan, teknologi, infrastruktur, dan transportasi masing‑masing turun antara 0,42% hingga 0,84%.
- Big caps yang menjadi beban utama: AMMN turun 5,09% ke Rp5.125, DSSA turun 4,34% ke Rp1.765, dan TPIA turun 3,48% ke Rp5.550.
- Saham lain yang menekan indeks: UNVR turun 2,30% ke Rp1.485.
- Saham top gainers: KOCI naik 34,82% ke Rp151, ESIP naik 34,75% ke Rp159.
- Saham top losers: JAWA turun 14,56% ke Rp176, MBSS turun 12,81% ke Rp2.110.
Analisis teknikal menunjukkan histogram MACD tetap negatif dan stochastic RSI memasuki zona oversold, menandakan momentum berlanjut ke sisi bawah. Kepala Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, memperkirakan IHSG dapat melanjutkan pelemahan menuju level 7.075 hingga 7.050 pada sesi perdagangan selanjutnya.
Penyebab utama penurunan ini tidak hanya terbatas pada faktor teknikal. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mencuat pada pekan ini menambah kecemasan investor global, memicu penarikan dana dari pasar saham berkembang, termasuk Indonesia. Kombinasi ini memperparah sentimen negatif, terutama pada saham-saham big caps yang sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan indeks.
Secara fundamental, pasar masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, nilai tukar rupiah, serta ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik. Meskipun beberapa sektor seperti keuangan menunjukkan penguatan, tekanan eksternal dan koreksi profit‑taking pada saham-saham unggulan menahan kenaikan lebih lanjut.
Para pelaku pasar disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik serta data ekonomi utama, sambil memperhatikan indikator teknikal yang menunjukkan potensi kelanjutan tren turun. Diversifikasi portofolio ke sektor yang lebih defensif, seperti konsumer non‑siklikal dan utilitas, dapat menjadi strategi mitigasi risiko dalam kondisi volatilitas tinggi.
Dengan kondisi pasar yang masih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan koreksi sektor, para investor diharapkan tetap waspada dan menyesuaikan strategi investasi sesuai dengan dinamika terkini.









