Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 April 2026 | Kiesha Alvaro, aktris muda yang dikenal lewat peran-peran dramatis, kini kembali menarik perhatian publik dengan persiapan fisik yang tak biasa untuk film Tumbal Proyek. Film ini mengusung tema tentang konflik budaya, mitos jembatan Suramadu, serta pergulatan identitas Katolik di tengah masyarakat Indonesia. Untuk menjiwai karakter baru yang ia perankan, Kiesha menjalani pelatihan intensif mulai dari mencangkul hingga mengemudi ekskavator, sebuah proses yang menuntut ketangguhan fisik dan mental.
Proses persiapan dimulai tiga bulan sebelum syuting utama. Tim produksi menggandeng instruktur pertanian dan operator alat berat profesional untuk memberikan pelatihan langsung di sebuah lahan konstruksi yang terletak di pinggiran Surabaya. “Kami ingin agar penonton merasakan keaslian gerak tubuh dan ekspresi karakter yang sedang berjuang di lapangan,” ujar sutradara film, Budi Santoso. “Kiesha tidak hanya belajar teknik, tapi juga merasakan beban emosional yang dibawa tokohnya, seorang Katolik yang terjebak dalam legenda mistik Suramadu.
Berikut rangkaian latihan yang dijalani Kiesha:
- Mencangkul tanah: Latihan dasar pertanian selama dua minggu, melibatkan teknik menggali, menata lahan, dan mengatur irigasi sederhana. Hal ini membantu aktris menyesuaikan ritme kerja fisik yang berat.
- Penggunaan alat berat: Sesi khusus mengemudi ekskavator selama satu bulan, mencakup kontrol joystick, manuver di area sempit, serta prosedur keselamatan kerja.
- Simulasi adegan: Kombinasi antara pekerjaan fisik dengan adegan emosional, misalnya memindahkan batu besar sambil mengingat konflik batin tokohnya.
Kiesha mengakui bahwa tantangan pertama adalah menyesuaikan diri dengan berat beban fisik. “Awalnya, otot-otot saya terasa kaku, bahkan napas terasa pendek. Namun, dengan bimbingan tim, saya belajar mengatur napas dan menemukan ritme kerja yang efisien,” katanya. Selain itu, ia juga harus menguasai terminologi teknis yang biasanya hanya dipahami oleh pekerja konstruksi.
Selain aspek fisik, peran tersebut menuntut Kiesha memahami latar belakang religius tokohnya. Karakter yang ia perankan adalah seorang Katolik yang hidup di sebuah desa dekat Selat Suramadu, di mana legenda tentang makhluk gaib yang menjaga jembatan masih hidup dalam cerita lisan. Pilihan untuk menonjolkan identitas Katolik dalam film ini menimbulkan perbincangan di kalangan penonton, mengingat Indonesia mayoritas Muslim. Namun, produser menegaskan bahwa film ini bertujuan menampilkan pluralitas budaya dan kepercayaan tanpa menyinggung pihak manapun.
Dalam wawancara eksklusif, Kiesha menjelaskan bagaimana ia mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan mitos lokal. “Sebagai Katolik, saya membawa nilai pengampunan dan harapan. Di dalam cerita, tokoh saya berusaha menyeimbangkan keyakinan pribadi dengan tekanan masyarakat yang masih memuja mitos Suramadu. Ini memberikan dimensi baru pada konflik internal yang saya mainkan,” ungkapnya.
Penggunaan ekskavator dalam film tidak sekadar sebagai properti visual. Alat berat tersebut melambangkan perubahan dan pembangunan, yang kontras dengan kepercayaan lama yang masih mengakar. Saat mengemudi ekskavator, Kiesha harus menampilkan ketegangan antara modernitas dan tradisi. “Saat saya menggerakkan bucket ekskavator, saya merasakan simbolik menggali masa lalu sekaligus membuka jalan bagi masa depan,” tambahnya.
Reaksi awal dari kru produksi sangat positif. Salah satu operator ekskavator, Joko Prasetyo, menyatakan kekaguman atas dedikasi Kiesha. “Tidak banyak aktor yang rela menurunkan diri sampai ke lapangan seperti ini. Dia menunjukkan semangat juang yang luar biasa,” katanya.
Film Tumbal Proyek dijadwalkan tayang pada akhir tahun ini, dengan ekspektasi tinggi dari penonton yang menantikan perpaduan antara drama religius, mitos lokal, dan aksi fisik yang intens. Keberanian Kiesha Alvaro untuk menembus zona nyaman aktingnya diyakini menjadi nilai jual utama bagi film ini.
Dengan menggabungkan latihan fisik yang menantang dan pemahaman mendalam tentang konteks keagamaan serta mitologi, Kiesha berhasil menyiapkan diri secara komprehensif. Penonton dapat mengantisipasi penampilan yang tidak hanya mengesankan secara visual, tetapi juga menggugah perenungan tentang identitas, kepercayaan, dan perubahan sosial di era modern.











