Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 09 Agustus 2026 | Laut telah lama menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, tidak hanya sebagai sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga sebagai simbol cinta, kehidupan, dan kerinduan. Dalam konteks ini, laut bukan sekadar latar cerita, tetapi juga ruang kerja yang menuntut tenaga, kesabaran, dan ketekunan.
Salah satu contoh yang menarik adalah lagu "Elo Pukek" yang diciptakan oleh Tiar Ramon dan A. Bakarudin. Lagu ini dikenal melalui versi Tiar Ramon dan kemudian dipopulerkan pula oleh Fetty. Di balik irama dan liriknya, lagu tersebut menyimpan cerita tentang aktivitas menangkap ikan, kehidupan nelayan, serta kerinduan seseorang terhadap pasangan yang berada di tengah laut.
Kata "pukek" dalam lagu menjadi simbol utama yang menghubungkan kehidupan manusia dengan laut. Aktivitas menarik pukat digambarkan melalui penggalan "Elo pukek yo lah rang eloan, sandang pandayuang lah baok pulang". Pukek atau pukat merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan, sementara pandayuang merujuk pada alat untuk menggerakkan perahu.
Gambaran tersebut membawa pendengar langsung ke ruang kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada laut. Pada bagian awal, lirik menggambarkan aktivitas menarik pukat yang tidak mudah. "Kasiak angek pinggangnyo lah gantiang, namun pukek nan dielo juo" memperlihatkan kerja keras yang dilakukan berulang kali.
Di sisi lain, Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Tri Tito Karnavian mengajak para pelajar di Kabupaten Biak Numfor, Papua, menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air melalui pendidikan karakter sekaligus mengenal potensi bahari di daerahnya. Ajakan tersebut disampaikannya saat menghadiri Kegiatan Senam Sehat Masyarakat Sehat dan Hebat serta Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air di Lapangan Cenderawasih, Kabupaten Biak Numfor, Papua.
Tri mengatakan, Biak memiliki kekayaan bawah laut yang menjadi kebanggaan Indonesia, termasuk keberadaan bangkai pesawat perang dunia II di dasar laut. Menurutnya, potensi ini perlu diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka semakin mengenal sekaligus mencintai daerahnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, TP PKK berencana berkolaborasi dengan pusat-pusat penyelaman (dive center) di Biak guna memperkenalkan olahraga selam kepada para pelajar melalui program pengenalan menyelam. Menurut Tri, kegiatan itu dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus menjaga kekayaan laut yang dimiliki daerahnya.
Dalam konteks ini, laut bukan hanya sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai simbol cinta, kehidupan, dan kerinduan. Dengan demikian, penting untuk menjaga dan melestarikan kekayaan laut agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Di akhir, laut cinta merupakan konsep yang menghubungkan kehidupan masyarakat pesisir dengan ekspresi seni. Dengan memahami dan menghargai kekayaan laut, kita dapat menjaga dan melestarikan kekayaan alam ini untuk generasi mendatang.









