Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 24 April 2026 | Kenaikan tajam harga plastik yang dipicu oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah menimbulkan tekanan signifikan bagi sektor industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia. Harga resin polyethylene, polypropylene, dan PET melambung, memaksa produsen mencari alternatif yang lebih stabil dan ekonomis. Menanggapi situasi ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara tegas mengajak pelaku industri mamin untuk segera beralih ke kemasan kertas atau paperboard sebagai solusi jangka panjang.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa ketergantungan pada plastik kini menjadi risiko strategis karena harganya sangat fluktuatif mengikuti pasar minyak global. “Kemasan kertas saat ini sudah banyak digunakan untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna,” ujar Menperin pada konferensi pers Jumat, 24 April 2026.
Berita ini didukung oleh data Kemenperin yang menunjukkan kapasitas produksi kemasan kertas domestik mencapai 21 miliar unit per tahun, jauh melampaui kebutuhan nasional yang diproyeksikan sebesar 8,3 miliar unit per tahun. Dengan kapasitas berlebih tersebut, industri diharapkan dapat mengurangi impor kemasan plastik sekaligus menahan dampak volatilitas harga minyak.
Berikut beberapa poin utama yang menjadi dasar kebijakan ini:
- Kenaikan Harga Plastik: Konflik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak dunia naik, yang secara langsung meningkatkan biaya produksi plastik.
- Stabilitas Biaya: Bahan baku kertas memiliki harga yang lebih stabil dibandingkan plastik, sehingga mengurangi risiko biaya tak terduga.
- Efisiensi Operasional: Kemasan kertas aseptik tidak memerlukan rantai pendingin (cold chain) dan kulkas untuk penyimpanan, menurunkan biaya logistik.
- Keberlanjutan Lingkungan: Penggunaan kertas mengurangi sampah plastik dan jejak karbon, selaras dengan agenda green economy pemerintah.
Para pemangku kepentingan industri juga turut berperan aktif. Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa transisi ke kemasan aseptik berbasis kertas bukan semata soal harga, melainkan langkah strategis menuju produksi yang lebih berkelanjutan. Sementara Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menekankan pentingnya diversifikasi sumber bahan baku dan peningkatan kecepatan procurement agar produksi tetap kompetitif.
Berbagai perusahaan besar telah menyuarakan strategi mereka. Mayora Indah (MYOR), misalnya, mengumumkan rencana investasi pada lini produksi kemasan kertas untuk beberapa produk unggulannya. Selain itu, Lami Packaging Indonesia, produsen kemasan aseptik pertama di tanah air, menyiapkan kapasitas produksi hingga 21 miliar unit per tahun, hampir tiga kali lipat kebutuhan nasional, menjadikannya mitra potensial bagi industri mamin yang ingin beralih.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi menurunkan harga konsumen akhir. Analisis internal menunjukkan bahwa meski biaya unit awal kemasan kertas sedikit lebih tinggi, penghematan pada logistik, penyimpanan, dan pengurangan kebutuhan energi dapat menyeimbangkan total cost of ownership.
Berikut ilustrasi perbandingan biaya antara kemasan plastik dan kemasan kertas pada produk susu cair:
| Elemen Biaya | Kemasan Plastik (USD) | Kemasan Kertas (USD) |
|---|---|---|
| Bahan baku | 0,12 | 0,10 |
| Proses produksi | 0,05 | 0,06 |
| Logistik & cold chain | 0,08 | 0,02 |
| Total | 0,25 | 0,18 |
Data tersebut menunjukkan potensi penghematan hingga 28 persen pada total biaya distribusi bila beralih ke kemasan kertas.
Pengaruh kenaikan harga plastik juga merambat ke harga bahan dapur rumah tangga. Sejumlah bahan pokok seperti air minum dalam kemasan, minyak goreng, beras, dan gula yang biasanya dikemas menggunakan plastik diproyeksikan mengalami kenaikan harga sejalan dengan biaya kemasan. Menurut laporan Viva, 12 bahan dapur utama berisiko naik harga akibat beban tambahan pada rantai pasok plastik.
Secara keseluruhan, kebijakan Kemenperin ini diharapkan dapat menstabilkan pasar, melindungi daya saing industri makanan dan minuman, serta mendukung agenda keberlanjutan nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan pangsa kemasan kertas dari 28 persen menjadi lebih dari 50 persen dalam tiga tahun ke depan, dengan dukungan skema pembiayaan, pelatihan teknis, dan kolaborasi lintas sektor.
Transisi ini juga membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di bidang pengolahan kertas, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat ekosistem industri hijau di Indonesia.
Dengan langkah konkret ini, Indonesia tidak hanya menanggapi gejolak harga plastik secara reaktif, tetapi juga mengukir langkah proaktif menuju ekonomi sirkular yang lebih resilien.











