Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 26 Juli 2026 | Baru-baru ini, nama Dea Arranoya menjadi sorotan publik setelah sejumlah unggahannya di media sosial memicu kontroversi dan menuai kecaman luas dari warganet. Perbincangan semakin meluas karena unggahan tersebut dinilai menampilkan gaya hidup mewah atau flexing yang dianggap tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Dea Arranoya merupakan putri dari dr. H. Nevirizal, pejabat Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Namanya sebelumnya tidak begitu dikenal publik, tetapi menjadi viral setelah sejumlah unggahan di akun media sosial pribadinya tersebar luas.
Salah satu unggahan yang paling banyak dibicarakan adalah saat Dea memperlihatkan deretan jeriken bahan bakar minyak (BBM) disertai tulisan, "Papaku beli minyak 15 jirigen. Ntah mobil mana lagi yang mau dipenuhkannya." Unggahan tersebut kemudian viral dan memicu berbagai kritik di media sosial.
Dea juga beberapa kali membagikan dokumentasi perjalanan ke luar negeri. Salah satu unggahannya yang ramai diperbincangkan memperlihatkan aktivitas liburan ke beberapa negara Eropa. "Hidup kadang di Paris, Inggris, Jerman," tulisnya.
Unggahan-unggahan tersebut memunculkan anggapan bahwa Dea sedang memamerkan gaya hidup mewah. Di tengah berbagai kritik yang berkembang, perhatian publik kemudian meluas hingga menyoroti latar belakang keluarga maupun riwayat pendidikannya.
Dea Arranoya merupakan mahasiswa profesi dokter hewan di Universitas Syiah Kuala dan magister di Universitas Sari Mutiara Indonesia. Namun, unggahan-unggahannya yang memperlihatkan gaya hidup mewah tersebut membuat banyak orang penasaran tentang latar belakang keluarganya.
Ayah Dea, dr. H. Nevirizal, merupakan pejabat Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Ia menjabat sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues.
Setelah unggahan Dea memicu kontroversi, ayahnya akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya. Dalam surat pengunduran dirinya, dr. H. Nevirizal menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk menjaga integritas institusi pemerintah.
Dea Arranoya sendiri telah menyampaikan permohonan maaf terbuka dan mengaku sangat menyesali perbuatannya yang berujung pada pengunduran diri sang ayah dari kursi jabatan. Ia juga menghapus seluruh unggahan yang memicu polemik tersebut dari akun media sosialnya.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa gaya hidup mewah yang dipamerkan di media sosial dapat memiliki dampak yang luas dan tidak hanya memengaruhi individu tersebut, tetapi juga orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga dan institusi tempat mereka bekerja.











