Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 23 Juli 2026 | Pasar modal Indonesia saat ini sedang mengalami dinamika yang menarik. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi) korporasi tetap berada pada level yang solid sepanjang semester II 2026. Hal ini disebabkan oleh tingginya kebutuhan refinancing dari emiten-emiten di pasar modal Indonesia.
Menurut Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, penerbitan surat utang korporasi masih akan berada pada kisaran Rp154 triliun-Rp196,86 triliun dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun sepanjang 2026. Ini berdasarkan realisasi penerbitan yang telah mencapai Rp87,35 triliun hingga semester I-2026.
Suhindarto menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menopang penerbitan surat utang korporasi pada semester II-2026 adalah tingginya kebutuhan refinancing emiten-emiten di pasar modal Indonesia. Pefindo mencatat nilai surat utang korporasi yang akan jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp107,5 triliun, atau hampir dua kali lipat dibandingkan semester I-2026 yang sekitar Rp55 triliun.
Sementara itu, di pasar saham, emiten teknologi sedang menjadi sorotan. Investor memilih bersikap hati-hati sambil menanti laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar untuk mengukur apakah investasi jumbo di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai membuahkan hasil.
Di sisi lain, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menawarkan obligasi berkelanjutan VII Tahap IV 2026 senilai Rp 952,19 miliar. Dalam penawaran obligasi, perseroan tingkat bunga antara 8%-8,25%.
Bursa Asia-Pasifik juga dibuka menguat pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Sentimen positif datang di tengah perhatian investor terhadap musim laporan keuangan emiten, perkembangan investasi kecerdasan buatan (AI), serta pergerakan harga minyak dunia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) pada semester I 2026 telah melampaui 60 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp 134 triliun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa capaian tersebut ditopang kinerja ekspor batu bara, serta strategi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di tengah ketidakpastian kondisi global.
Dalam beberapa bulan terakhir, investor mulai lebih berhati-hati terhadap besarnya belanja perusahaan teknologi raksasa untuk pengembangan AI. Namun, perbaikan penerimaan negara ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian harga komoditas yang diterapkan pemerintah mulai membuahkan hasil.
Kondisi ekonomi domestik yang stabil dan kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan juga menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi pasar surat utang korporasi. Minat investor terhadap obligasi korporasi masih kuat, dan instrumen surat utang menawarkan imbal hasil yang lebih menarik sehingga berpotensi menjadi alternatif investasi bagi investor.
Kesimpulan, pasar modal Indonesia sedang mengalami dinamika yang menarik dengan proyeksi penerbitan obligasi korporasi yang solid dan kinerja emiten yang mulai membaik. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang dapat membatasi penerbitan obligasi korporasi, seperti risiko geopolitik global dan tekanan nilai tukar rupiah.











