Bisnis

Saham BBRI dan Big Banks Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Apa yang Terjadi?

×

Saham BBRI dan Big Banks Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Apa yang Terjadi?

Share this article
Saham BBRI dan Big Banks Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Apa yang Terjadi?
Saham BBRI dan Big Banks Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Apa yang Terjadi?

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 23 Juli 2026 | Saham emiten perbankan terutama big banks kompak melemah menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Rabu (22/7/2026). Saham bank-bank berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) kompak melemah pada perdagangan sesi pertama di siang ini.

Harga saham BBCA turun paling dalam sebesar 1,53% ke level Rp 6.425 per saham. Adapun pada pembukaan perdagangan, sahamnya di buka di level Rp 6.525 per saham. Saham BMRI susut 1,12% ke level Rp 4.430 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya sempat dibuka menguat di level Rp 4.490 per saham.

📖 Baca juga:
Mengenal Haji Isam, Pengusaha Sukses dari Kalimantan

Harga saham bank pelat merah berikutnya yakni BBNI yang turun 40 poin atau 1,10% ke level Rp 3.580 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya terlihat menguat di level Rp 3.6.40. Kemudian, saham BBRI terpantau berada pada level Rp 3.040 susut 30 poin atau 0,98%. BBRI sempat dibuka menguat di level Rp 3.080 pada perdagangan hari ini.

Bank Indonesia (BI) diproyeksi kembali mengerek suku bunga acuan atawa BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21 – 22 Juli 2026. Mirae Asset Sekuritas menyebut, kenaikan suku bunga acuan tersebut digunakan untuk menstabilkan nilai tukar. Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, tingkat suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama menjadi kenyataan, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun belum sepenuhnya disesuaikan.

Menurutnya, kombinasi kebijakan telah bergeser secara tegas ke arah yang disebut kebijakan moneter ketat dan kurva terarah. Sementara itu, JPMorgan melihat saham BBRI berada di level yang atraktif. Melalui laporan riset ekuitas bertajuk “Micro trumps macro; tactical upgrade to OW” yang terbit pada 19 Juli 2026, JPMorgan menaikkan peringkat saham BBRI dari Underweight menjadi Overweight, lompatan dua tingkat sekaligus, dengan target harga baru Rp3.400 per saham hingga Juni 2027, naik dari sebelumnya Rp2.730.

📖 Baca juga:
OCBC akuisisi HSBC: Transformasi Wealth Banking Indonesia dengan Nilai Rp 89,8 Triliun

Inti dari optimisme JPMorgan terletak pada membaiknya kualitas aset (asset quality) di segmen mikro. Menurut laporan tersebut, BBRI memperketat proses underwriting dan memperbaiki penagihan (collection), sehingga menekan biaya kredit (credit cost) mendekati panduan manajemen tahun ini. Salah satu langkah struktural yang disorot adalah pengurangan beban kerja petugas kredit mikro.

BRI telah menurunkan rasio jumlah debitur mikro per petugas menjadi 456 debitur, dari sebelumnya 528 debitur pada 2022, dan berencana menekannya lebih jauh mendekati 400 debitur per petugas. Langkah ini memungkinkan pemantauan dan penagihan yang lebih intensif. Tanggung jawab petugas kredit pun dipersempit agar fokus mengelola kredit lancar dan bermasalah, sementara penjualan aset yang telah dihapusbukukan (written-off) dialihkan ke pihak ketiga.

Hal ini berbuah positif, JPMorgan mencatat perbaikan pada indikator net downgrade to NPL di segmen mikro. Untuk segmen SME, kebijakan membatasi fasilitas pinjaman maksimal 75% dari kelebihan arus kas—di samping syarat agunan—turut mendorong kinerja kredit yang lebih baik. Meski ada kelemahan pada kredit konsumer (terutama KPR), JPMorgan menilai skalanya tidak cukup besar untuk menggagalkan perbaikan kualitas aset di tingkat bank secara keseluruhan.

📖 Baca juga:
ANTM Siap Bagikan Dividen Jumbo, Ini Jadwal Cum Dividen dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Menariknya, JPMorgan secara eksplisit mengaitkan perbaikan arus kas nasabah akar rumput dengan program-program pemerintah. Efek rembesan (trickle-down) dari program makan bergizi gratis serta pembentukan koperasi disebut turut membantu arus kas di level bawah piramida ekonomi, yakni basis nasabah inti BRI. Selain itu, pencairan berbasis kebijakan (policy-led disbursements) serta subsidi energi dan subsidi terkait lainnya dinilai membatasi tekanan arus kas bagi segmen mikro dan pedesaan untuk saat ini.

Kombinasi faktor inilah yang membuat JPMorgan menyimpulkan adanya “kemungkinan reli jangka pendek” pada harga saham BRI, dengan peluang bagi investor untuk mengambil posisi taktis dalam satu bulan ke depan. Dengan demikian, saham BBRI dapat menjadi salah satu pilihan menarik bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi kenaikan harga saham di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kesimpulan, saham BBRI dan big banks lainnya melemah jelang pengumuman RDG BI, namun JPMorgan melihat potensi kenaikan harga saham BBRI berkat perbaikan kualitas aset dan dukungan program pemerintah. Investor perlu mempertimbangkan faktor-faktor ini dalam membuat keputusan investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *