Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 22 April 2026 | Arby W Manangsa, kepala SMP Nusantara di Sorong, Papua Barat Daya, meneteskan air mata saat menjadi saksi meringankan mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim pada sidang Tipikor Jakarta 21 April 2026. Dalam persidangan, ia mengisahkan bagaimana perangkat Chromebook yang didistribusikan oleh Kementerian mengubah wajah sekolah yang selama ini dijuluki “sekolah buangan” menjadi institusi pilihan bagi banyak keluarga.
Menurut Arby, sebelum program digitalisasi, SMP Nusantara terletak di pinggiran kota dengan fasilitas minim, banyak murid putus sekolah, dan reputasi buruk. “Dulu orang sebut sekolah itu sekolah buangan,” ujarnya dengan suara bergetar. Namun, pada Juni 2021, sekolahnya menerima 15 unit Chromebook beserta akses internet dan pelatihan bagi guru. “Saat itu, saya hampir tidak sanggup menjawab pertanyaan tentang manfaatnya, karena perubahan yang saya lihat belum terjadi,” kata Arby.
Setelah perangkat itu tiba, guru-guru mulai menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi daring, dan materi interaktif. Murid-murid dapat mengakses materi STEM, bahasa asing, serta kursus persiapan beasiswa luar negeri. Hasilnya, pada tahun ajaran berikutnya, persentase kelulusan naik menjadi 92 persen, dan tiga siswa berhasil melanjutkan studi ke Vietnam melalui beasiswa pemerintah.
Transformasi digital tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, melainkan juga mengubah persepsi masyarakat. SMP Nusantara kini menjadi “sekolah favorit” dan mendapat undangan kunjungan dari dinas pendidikan provinsi untuk menjadi contoh best practice. Kepala Dinas Pendidikan Papua Barat Daya menyatakan, “Model ini dapat direplikasi di daerah terpencil lainnya,” menambahkan bahwa dukungan perangkat keras dan pelatihan guru menjadi kunci utama.
Sidang tersebut juga menampilkan saksi-saksi guru dari berbagai daerah yang menegaskan manfaat Chromebook dalam proses belajar mengajar. Delapan saksi, termasuk Arby, memberikan keterangan bahwa perangkat tersebut mempermudah evaluasi belajar, mengurangi ketergantungan pada buku teks konvensional, serta meningkatkan partisipasi siswa, terutama di kelas dengan populasi murid tinggi.
Sementara itu, Nadiem Makarim mengaku kebingungan atas pembatasan kesempatan saksi yang diberikan hakim. Ia menyatakan, “Kami hanya diberi tiga kali sidang untuk menghadirkan saksi, sementara Jaksa Penuntut Umum mendapatkan tiga bulan dengan 60 saksi.” Meski begitu, ia tetap menekankan pentingnya program digitalisasi sebagai bagian dari reformasi pendidikan nasional.
Keberhasilan SMP Nusantara menjadi bukti nyata bahwa investasi teknologi, khususnya Chromebook, dapat memberikan dampak sosial‑ekonomi yang signifikan. Dengan akses ke sumber belajar global, murid-murid di daerah terpinggirkan kini memiliki peluang yang setara dengan rekan-rekan mereka di kota besar. Pemerintah diharapkan dapat memperluas skema serupa untuk menutup kesenjangan pendidikan di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, kesaksian guru Sorong tidak hanya meringankan beban Nadiem di ruang sidang, melainkan juga menegaskan bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan telah memberikan hasil konkret bagi ribuan pelajar di pelosok negeri.











