Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 13 Juni 2026 | Pemerintah terus memperkuat industri perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing sektor penerbangan nasional. Sekretaris Deputi Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur Republik Indonesia Rustam Efendi mengatakan keberhasilan industri penerbangan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan bandara dan pertumbuhan armada, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung, termasuk sektor MRO.
Menurut Rustam, akses terhadap industri MRO menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan industri penerbangan yang lebih efisien dan kompetitif. Pemerintah kini mulai menggeser pendekatan pembangunan, dari yang sebelumnya berfokus pada infrastruktur fisik menjadi pembangunan konektivitas yang lebih terintegrasi.
Dalam konteks tersebut, Batam dinilai memiliki posisi strategis untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri MRO nasional. Selain berada di jalur perdagangan internasional, Batam juga memiliki kedekatan dengan pusat industri dan konektivitas kawasan.
Pemerintah saat ini memprioritaskan pengembangan sejumlah wilayah sebagai simpul konektivitas nasional, di antaranya Batam, Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Untuk mendukung percepatan industri MRO, pemerintah tengah menyelaraskan konektivitas antara pelabuhan laut, bandara, kawasan industri, hingga sistem distribusi barang.
Langkah ini ditujukan untuk menekan waktu tunggu kedatangan komponen dan suku cadang pesawat. Rustam mengatakan koordinasi tersebut melibatkan banyak pemangku kepentingan agar proses keluar masuk barang menjadi lebih cepat dan efisien.
Sementara itu, Ekonom Josua Pardede menyarankan agar kebijakan mitigasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diarahkan untuk melindungi daya beli kelompok rentan. Menurut Josua, kenaikan harga BBM, meskipun nonsubsidi seperti Pertamax, dapat menimbulkan efek domino pada perekonomian.
Dampak ini terutama terasa pada kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah yang memiliki alokasi pengeluaran besar untuk kebutuhan dasar. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah perlu mengambil langkah konkret dalam menjaga stabilitas harga pangan.
Penguatan cadangan pangan nasional, operasi pasar yang efektif, serta distribusi antardaerah menjadi krusial. Selain itu, subsidi angkutan pangan dari wilayah surplus ke daerah defisit juga dapat membantu menekan biaya logistik.
Di sisi lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta, untuk menyuarakan keresahan masyarakat. Mereka memilih lokasi tersebut agar semua pihak bisa ikut dalam aksi demonstrasi dan menyuarakan keresahan yang mereka rasakan.
Sebanyak 1.500 orang diperkirakan akan mengikuti aksi tersebut, dengan lima tuntutan yang akan disuarakan, yakni tuntutan terkait kebijakan pemerintah yang dinilai belum memenuhi kebutuhan masyarakat.











