Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 19 April 2026 | Gorontalo – Pada Jumat, 17 April 2026, dua anak laki-laki berusia sepuluh tahun, Muh. Nazril Pakaya dan Alindra Elmira Ramadan, tiba-tiba terseret arus ketika sedang mandi bersama teman-temannya di Sungai Bone, tepatnya di area Jembatan Ampi, Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana. Kejadian ini memicu aksi penyelamatan cepat oleh tim gabungan Basarnas, aparat kepolisian, dan warga sekitar.
Menurut keterangan Kepala Basarnas Provinsi Gorontalo, Heriyanto, korban pertama, Muh. Nazril Pakaya, ditemukan tidak bernyawa sekitar pukul 21.09 WITA, tidak jauh dari jembatan. Sementara Alindra Elmira Ramadan masih dalam pencarian. “Lokasi penemuan korban pertama berjarak kurang lebih 0,75 km dari titik titik pertemuan arus kuat,” ujar Heriyanto saat memberikan keterangan kepada media.
Keluarga korban, terutama ayah Nazril, Bapak Pakaya, mengungkapkan detik-detik terakhir sebelum tragedi terjadi. “Mereka memang sedang mandi bersama tiga orang teman. Salah satu teman sudah naik ke tepi, namun dua lainnya masih berada di dalam air hingga sore hari. Tiba‑tiba arus yang biasanya tenang berubah menjadi deras,” kata Bapak Pakaya dengan suara bergetar. Ia menambahkan, anak‑anaknya memang suka bermain air, namun tidak pernah memperkirakan bahaya mendadak pada saat sungai meluap setelah hujan ringan sebelumnya.
Tim SAR segera turun ke lokasi setelah menerima laporan. Karena arus cukup kuat, pencarian malam hari menggunakan perahu karet diputuskan. “Kami menurunkan satu perahu karet dan menyisir sungai sampai ke muara. Air setinggi satu meter dengan arus kencang membuat operasi menjadi sangat menantang,” jelas Heriyanto. Pencarian malam dihentikan sementara karena kondisi berbahaya, dan dilanjutkan keesokan paginya pukul 07.00 WITA.
Warga sekitar juga ikut membantu. Seorang warga, Iwan Setiawan, mengaku menggerakkan perahu kayu tradisional untuk menahan arus dan membantu tim SAR mengangkat barang-barang yang dapat menjadi penghalang. “Kami tidak ingin ada lagi yang hilang. Ini mengajarkan kami untuk lebih waspada ketika anak‑anak bermain di sungai,” ujarnya.
Setelah penemuan Nazril, suasana duka melanda keluarga dan warga. Keluarga Alindra terus berdoa, berharap anaknya ditemukan selamat. Pihak berwenang menegaskan pencarian akan terus berlangsung hingga Alindra ditemukan, baik hidup maupun meninggal.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang keamanan area sungai yang sering menjadi tempat mandi gratis bagi warga. Pemerintah Kabupaten Gorontalo sebelumnya telah memasang peringatan bahaya di beberapa titik, namun masih banyak area yang belum terpantau. “Kami akan meninjau kembali penempatan papan peringatan serta menambah pos keamanan di titik rawan,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (P3K) Gorontalo, Rina Pratiwi.
Selain itu, pihak Basarnas berencana mengadakan sosialisasi keamanan air bagi sekolah‑sekolah setempat. “Anak‑anak perlu diajari cara membaca kondisi aliran, mengenali tanda bahaya, dan pentingnya tidak mandi sendirian,” ungkap Heriyanto.
Kasus bocah hanyut Gorontalo ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya alam yang tampak sepele. Upaya bersama antara aparat, SAR, dan warga diharapkan dapat mencegah tragedi serupa di masa mendatang.











