Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 05 Juni 2026 | Fenomena iklim global yang berulang, El Nino, dilaporkan akan kembali menyapa Bumi dengan intensitas yang sangat kuat. Berdasarkan pemantauan model prakiraan jangka pendek, fase netral yang sempat terjadi pada musim semi tahun 2026 di belahan bumi utara, setelah sebelumnya melewati fase La Nina yang relatif ringan, diprediksi segera berakhir.
Pada pertengahan tahun 2026, Bumi kemungkinan besar akan memasuki fase El Nino. Bahkan, para ilmuwan kini mulai mengkhawatirkan lahirnya fenomena “Super El Nino” karena intensitasnya diproyeksikan bakal meningkat sangat tajam menuju akhir tahun.
El Nino terjadi ketika air hangat dari Samudra Pasifik ekuator bergerak menggantikan air dingin yang biasanya berada di lepas pantai Ekuador, Peru, dan Chile utara. Dalam kondisi normal, wilayah pesisir Amerika Selatan ini memiliki suhu air yang sangat dingin.
Kehadiran arus hangat El Nino ini menjadi kabar buruk bagi para nelayan Peru, karena fenomena ini memicu hilangnya ikan anchoveta, spesies ikan paling melimpah dan bernilai tinggi, yang hanya bisa tumbuh subur di perairan dingin yang kaya akan plankton.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) merilis data terbaru yang menunjukkan peluang 80 persen El Nino terbentuk antara Juni hingga Agustus 2026. Disebutkan, probabilitas fenomena ini bertahan hingga November mendekati 90 persen.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengeluarkan peringatan darurat terkait ancaman krisis iklim global terbaru imbas kemunculan El Nino tahun ini. Kemunculan anomali iklim tersebut diprediksi bakal memicu cuaca ekstrem dan mengancam ketahanan pangan di berbagai belahan dunia.
Indonesia memiliki posisi penting dalam sistem iklim global karena letaknya di kawasan western Pacific warm pool, yakni wilayah dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di dunia. Sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer memperlihatkan kecenderungan berkembangnya El Niño pada paruh kedua hingga akhir 2026.
Profesor University of Maryland, R Dwi Susanto, memaparkan bahwa data observasi dan model menunjukkan adanya akumulasi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai mendorong massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur, yang merupakan salah satu ciri perkembangan El Niño.
Dwi menerangkan, berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah ke pembentukan El Niño. Salah satu indikator utamanya adalah peningkatan cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang memiliki potensi untuk mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur.
Badan Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksi peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Angka probabilitas ini melonjak drastis hingga 90 persen menjelang November 2026.
El Nino bakal memberikan dampak berbeda. Menurut WMO, El Nino berpotensi memberikan dampak kekeringan ekstrem di wilayah Australia, Amerika Tengah, Karibia, bagian utara Amerika Selatan, dan sebagian besar Asia Selatan hingga Asia Tenggara.
Sementara, di wilayah selatan Amerika Serikat, wilayah selatan Amerika Selatan, kawasan Tanduk Afrika, dan Asia Tengah, El Nino berpotensi memicu curah hujan ekstrem hingga bisa menyebabkan banjir.
Sejak awal, para pakar sudah memprakirakan El Nino tahun ini akan jadi salah satu yang terkuat. Kekhawatiran para ilmuwan menebal mengingat siklus El Niño periode 2023-2024 lalu menempati daftar salah satu dari lima siklus terkuat dalam sejarah yang sukses memecahkan rekor tahun terpanas global.
Profesor University of Maryland, R Dwi Susanto, mengimbau, dampak El Niño terhadap Indonesia tidak cuma ditentukan kondisi Samudra Pasifik. Interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia turut berperan besar dalam menentukan tingkat keparahan dampak.
Di tengah kegaduhan peringatan global itu, Eddy Hermawan, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengingatkan hal yang kerap luput dari pemberitaan: Indonesia bukan negara biasa dalam urusan El Nino.
Indonesia berada di persimpangan dua sistem laut sekaligus. Seberapa keras El Nino memukul Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di Pasifik, tetapi juga oleh kondisi Samudra Hindia di sebelah barat.
Dengan demikian, perlu diwaspadai bahwa fenomena El Nino dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap iklim dan lingkungan di Indonesia, serta dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat.









