Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 06 Mei 2026 | PSS Sleman dan PSIS Semarang menjadi sorotan utama dalam pekan akhir Pegadaian Championship 2025/2026. Kedua tim bertemu pada laga pekan ke-27, dimana PSS menorehkan kemenangan telak 3-0 melawan PSIS di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Kemenangan ini tidak hanya mengamankan tiket promosi PSS ke BRI Super League musim depan, tetapi juga menegaskan ambisi klub untuk mengincar gelar juara melawan Garudayaksa FC pada final yang dijadwalkan Sabtu, 9 Mei 2026.
Di sisi lain, PSIS Semarang yang dipimpin oleh penyerang asal Brasil, Rafael de Sa Rodrigues alias Rafinha, berjuang keras untuk menghindari degradasi. Setelah menurunkan performa yang berfluktuasi sepanjang musim, Laskar Mahesa Jenar menutup kompetisi dengan kekalahan 0-3 dari PSS. Hasil ini menegaskan posisi PSIS di zona bawah klasemen akhir Liga 2, meskipun mereka berhasil mengumpulkan 23 poin pada akhir musim.
Pelatih PSS, Ansyari Lubis, menegaskan pentingnya pemulihan fisik pasca pertandingan melawan PSIS. “Setelah melawan PSIS kami ada recovery sehingga nanti lebih fresh lagi di partai final,” ujarnya dalam konferensi pers pasca laga. Ansyari menambahkan bahwa strategi tim akan difokuskan pada penyesuaian taktik melawan Garudayaksa FC, tim juara Grup Barat yang mengumpulkan 52 poin. PSS sendiri menutup grup dengan 56 poin, menempati posisi penguasa Grup Timur.
Gol-gol kemenangan PSS diraih melalui serangkaian aksi gemilang. Riko Simanjuntak membuka skor pada menit ke-12, diikuti oleh gol kedua dari Gustavo Tocantins pada menit ke-34. Gol penutup datang dari Arda Alfar pada menit ke-78, menegaskan dominasi PSS di lapangan. Penampilan individu ini mendapat pujian khusus dari Dominikus Dion, gelandang muda asal Sleman, yang menilai kemenangan ini sebagai momen spesial dalam kariernya.
Sementara itu, Rafihan menuturkan realita yang dihadapi PSIS. “Saat saya datang ke sini kami hanya punya delapan poin. Jadi tugas kami adalah bertahan di liga, itu tugas kami 100 persen,” tegasnya. Rafinha menambahkan bahwa target pribadi untuk musim depan adalah bermain di kasta tertinggi, yakni Liga 1, baik bersama PSIS maupun klub lain yang memberinya kesempatan.
- PSS Sleman: 3-0 vs PSIS, tiket promosi ke Liga 1, final melawan Garudayaksa FC.
- PSIS Semarang: 0-3 vs PSS, finis di posisi ke-8 Liga 2, target bertahan.
- Rafinha: 10 penampilan, 777 menit, 4 gol musim ini.
Statistik kedua tim menunjukkan perbedaan signifikan dalam hal produktivitas. PSS mencatat rata-rata kepemilikan bola 58% selama pertandingan melawan PSIS, sementara PSIS hanya menguasai 42%. Selain itu, PSS berhasil melakukan 15 tembakan ke gawang, dengan akurasi tembakan tepat sasaran 40%, dibandingkan PSIS yang hanya menghasilkan 6 tembakan dengan akurasi 20%.
Keberhasilan PSS dalam mengamankan promosi tidak lepas dari kontribusi pemain muda seperti Junior Haqi, yang pada debut profesionalnya berhasil merasakan manisnya promosi. “Saya bersyukur bisa melewati semuanya dan langsung merasakan promosi ke Liga 1,” ungkap Haqi berusia 25 tahun.
Di sisi lain, PSIS tetap optimis meski berakhir di zona degradasi. Rafinha menekankan pentingnya mentalitas bertahan dan kesiapan fisik. “Saya menyerahkan segala keputusan kepada Tuhan, namun saya tetap bertekad untuk bermain di Liga 1,” tuturnya.
Dengan final yang akan datang, PSS bertekad menampilkan skuad lengkap dan mengoptimalkan strategi yang telah terbukti efektif pada pertandingan uji coba Desember 2025, dimana mereka berhasil mengalahkan Garudayaksa FC 1-0. Sementara PSIS harus menata kembali skuad dan mencari solusi untuk kembali bersaing di musim depan.
Secara keseluruhan, duel PSS vs PSIS menegaskan dinamika kompetisi Liga 2: satu tim melaju ke puncak, sementara yang lain berjuang menghindari jurang degradasi. Pertarungan ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya konsistensi, kedisiplinan, dan visi jangka panjang dalam dunia sepak bola Indonesia.











