Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Mei 2026 | JAKARTA, 30 April 2026 — Menteri Keuangan Yudhi Sadewa, yang lebih dikenal dengan sebutan Menkeu Purbaya, menyatakan bahwa Indonesia kini berada dalam “survival mode”. Pernyataan itu muncul di tengah dinamika ekonomi global yang dipenuhi ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga kebijakan moneter dunia yang masih menahan suku bunga tinggi.
Menurut Purbaya, istilah “survival mode” bukanlah sinyal kepanikan melainkan peringatan bahwa kebijakan lama tidak lagi cukup untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa pemerintah harus menghindari “main-main” dalam pengambilan keputusan ekonomi, melainkan fokus pada kebijakan yang dapat menghasilkan dampak nyata pada produktivitas nasional.
Situasi global yang berubah cepat menuntut penyesuaian cepat pula. Laporan IMF awal 2026 menyoroti perlambatan pertumbuhan dunia, terutama bagi negara‑negara berkembang yang masih bergantung pada ekspor komoditas. Di sisi lain, negara‑negara pesaing seperti Vietnam, India, dan China terus memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok global, menambah tekanan pada Indonesia.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih kuat. Konsumsi domestik yang besar, bonus demografi, sumber daya alam melimpah, serta infrastruktur yang terus dibangun menjadi modal utama. Namun, ia memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada konsumsi dan ekspor komoditas dapat menjadi titik lemah bila daya beli menurun atau harga komoditas berfluktuasi.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah merencanakan serangkaian langkah strategis yang menitikberatkan pada kualitas kebijakan, bukan sekadar besaran belanja atau pemotongan anggaran. Berikut beberapa prioritas utama:
- Koordinasi lintas lembaga: Memperkuat sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan badan‑badan terkait agar kebijakan lebih responsif terhadap perubahan eksternal.
- Evaluasi belanja negara: Setiap program harus diukur dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan daya saing jangka panjang. Pendekatan ini menolak pemotongan sembarangan dan menekankan alokasi ke sektor strategis.
- Reformasi perpajakan: Memperluas basis pajak melalui digitalisasi, integrasi data, dan peningkatan kepatuhan. World Bank mencatat bahwa rasio pajak Indonesia masih memiliki ruang signifikan untuk perbaikan.
- Dukungan UMKM: Menggandeng teknologi digital untuk meningkatkan akses pasar, pembiayaan, dan kapasitas produksi sehingga UMKM dapat naik kelas.
- Hilirisasi industri: Memperluas nilai tambah pada sektor‑sektor seperti farmasi, teknologi kesehatan, energi terbarukan, dan inovasi berbasis riset.
- Investasi pada SDM: Fokus pada peningkatan keterampilan di bidang manufaktur modern, kecerdasan buatan, dan ekonomi hijau untuk menyiapkan tenaga kerja siap bersaing secara global.
Menkeu Purbaya menegaskan bahwa kebijakan fiskal tidak boleh menjadi beban tambahan bagi perekonomian. Sebaliknya, kebijakan harus menjadi katalisator pertumbuhan yang mendorong inovasi, efisiensi, dan inklusivitas. Ia menambahkan bahwa penguatan kualitas kebijakan akan meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, yang pada gilirannya dapat menstimulasi aliran modal ke sektor‑sektor produktif.
Pengalaman dua dekade terakhir menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengatasi guncangan eksternal, mulai dari krisis finansial Asia 1997 hingga pandemi COVID‑19. Namun, Purbaya mengingatkan bahwa keberhasilan masa depan tidak dapat bergantung pada kebijakan reaktif semata. Pemerintah harus mengantisipasi perubahan struktural, memperkuat daya tahan ekonomi, dan menyiapkan sistem yang fleksibel untuk menanggapi guncangan mendadak.
Dalam konteks politik domestik, pernyataan “survival mode” juga menjadi sinyal bagi semua pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta, akademisi, dan masyarakat luas, untuk bersikap lebih realistis dan kolaboratif. Pemerintah membuka ruang dialog intensif dengan dunia usaha guna memastikan kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan riil di lapangan.
Kesimpulannya, meskipun istilah “survival mode” terdengar dramatis, fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki banyak kekuatan. Tantangan global menuntut kebijakan yang lebih cermat, terkoordinasi, dan berorientasi pada hasil. Dengan langkah‑langkah strategis yang telah direncanakan, Indonesia berharap dapat menjaga stabilitas makro, meningkatkan daya saing, dan tetap berada di jalur pertumbuhan berkelanjutan.











