Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 28 April 2026 | Babak penentuan “Slag om Vlaanderen” pada akhir pekan lalu mempertemukan dua raksasa sepak bola Belgia, KAA Gent melawan Club Brugge. Pertandingan yang berlangsung di Ghelamco Arena berakhir dengan skor 0-2 untuk tuan rumah, menambah tekanan pada Gent yang kini berada di zona tengah klasemen Jupiler Pro League.
Club Brugge mendominasi sejak menit awal. Gol pertama dicetak melalui serangan balik cepat yang memanfaatkan ruang kosong di lini pertahanan Gent. Gol kedua datang tak lama setelahnya, menegaskan keunggulan biru‑hitam. KAA Gent tampak kebingungan dalam mengatur tempo, terutama pada lini depan yang seharusnya menjadi penggerak utama.
Spits asal Inggris, Max Dean, menjadi sorotan utama setelah penampilan yang jauh di bawah ekspektasi. Setelah kembali dari cedera, Dean diinstruksikan untuk menjadi “anjakan” bagi tim, namun ia tampak pasif dan sering mengisolasi diri. “Dean lengkap tidak ada, dia hanya berfokus pada dirinya sendiri,” kata mantan pelatih Gent, Hein Vanhaezebrouck, dalam wawancara pasca‑pertandingan. “Dia harus menjadi penggerak, bukan hanya menunggu bola.”
Vanhaezebrouck tidak segan‑segan membandingkan Dean dengan Benito Raman, pemain yang dikenal memiliki energi tinggi dan keberanian menyerang. “Benito terbang ke semua arah dan tidak takut menantang Club Brugge. Dean malah mengikat dirinya sendiri,” pungkasnya. Kritik tajam ini menyingkap masalah kebugaran dan mentalitas Dean yang belum kembali sepenuhnya setelah cedera.
Akibat performa Dean yang menurun, Vanhaezebrouck menilai dampak negatif juga terasa pada rekan-rekan setimnya. Wilfred Kanga dilaporkan kesulitan menekan lawan, sementara Hong dan Skoras tampak kehilangan arah. “Tanpa dukungan dari striker, gelandang kesulitan menemukan ruang, dan mereka cenderung kehilangan kontrol,” jelas Vanhaezebrouck.
Di luar sorotan Gent, kabar lain menggerakkan atmosfer liga. Standard Liège (STVV) secara berani memprediksi bahwa Club Brugge akan mengamankan gelar juara musim ini. “STVV akan membantu Club Brugge menjadi juara,” ujar mantan kiper klub Limburg dalam sebuah pernyataan yang menggema di media sosial. Prediksi ini muncul setelah Club Brugge menunjukkan konsistensi kuat, terutama pada pertandingan melawan Union SG yang berakhir imbang tipis.
Analisis para pakar menggarisbawahi bahwa meski Club Brugge belum mengamankan poin maksimal melawan Union, mereka tetap berada di posisi strategis untuk mengendalikan jalannya kompetisi. Keputusan taktik yang mengutamakan kontrol bola dan penekanan tinggi menjadi senjata utama mereka. Jika STVV mampu menahan tekanan Union dan menambah tiga poin, peluang Club Brugge untuk menambah jarak dengan pesaing utama semakin besar.
Sementara itu, masa depan Max Dean masih menjadi pertanyaan. Pelatih Gent berjanji akan memberikan kesempatan kedua, namun menekankan perlunya peningkatan intensitas latihan dan mentalitas kompetitif. “Kami tidak menutup pintu bagi Dean, tapi dia harus membuktikan bahwa dia masih layak menjadi striker utama,” tegas Vanhaezebrouck.
Kesimpulannya, kekalahan 0-2 melawan Club Brugge menandai titik balik bagi KAA Gent. Kritik tajam terhadap Max Dean menjadi cermin bagi tim untuk mengevaluasi strategi ofensifnya. Di sisi lain, prediksi ambisius STVV menambah bumbu persaingan di puncak klasemen, menjadikan sisa musim Jupiler Pro League semakin menegangkan.











